yuuhuuuuu my lil Ai, udah bisa dikasih susu UHT! slama ini Ai blm pernah dikasih susu tambahan, dan Boenda LEBIH MEMILIH memberikan SUSU UHT DARIPADA SUSU FORMULA,
kenapa??
karena ada beberapa bunda yg menanyakan perihal susu UHT ini, berikut boenda copas artikel (sumber: milis mpasirumahan) alasan dibalik pilihan boenda memberikan susu UHT ke Aira
*UHT vs Susu Formula*
Ide awal formulasi dari susu bubuk formula bayi adalah membuat pengganti
ASIdengan komposisi sedapat mungkin menyerupai ASI, dari susu sapi
yang ditujukanuntuk bayi2 yang tidak bisa mendapatkan ASI. Karena bayi dibawah satu tahun belum dapat mencerna secara langsung susu sapi dengan kadar lemak yang cukup tinggi, sehingga bahan dasarnya skimmilk ditambahkan lemak nabati. Skimmilk diperoleh dengan memisahkan lemak susu dari susu murni, dan lemaknya jadi bahan baku butter. Kadar vitamin larut lemak dalam skimmilk rendah sekali, sehingga untuk meningkatkan kadar lemak difortifikasi lagi dengan vitamin2 tambahan.
Disamping itu proses pengeringan susu bubuk sendiri menurunkan kandungan vitamin yang tidak tahan suhu tinggi, hal ini juga penyebab perlunya penambahan vitamin ke dalam susu bubuk. Demikian pula tambahan lemak nabati (linolenat-linoleat ,DHA,AA) dimasukkan kedalam susu formula dengan tujuan membuat sedekat mungkin mirip fungsi/daya guna ASI. Formulasinya sendiri cukup rumit rumus standard hitungannya untuk bisa memperoleh komposisi susu formula seideal mungkin,yang selanjutnya dianalisa metabolisma zat gizinya baik secara invito maupun invivo, dan sukarelawan. Adalah MISCONCEPTION jika dinyatakan bahwa
kandungan susu bubuk formula bayi lebih baik dari susu UHT cair.
Ini perbandingan yg tidak Apple to Apple. Beda tujuan penggunaan. Kenapa disarankan bayi/balita diatas 1 thn susu UHT sudah cukup dan fortifikasi vitamin bisa dengan mengkonsumsi makanan aslinya?
Banyak hal:
1.Sumber vitamin dan mineral yang baik adalah makanan alami, karena pada dasarnya pencernaan manusia siap menerima asupan makanan natural. Pencernaanbayi diatas 1 tahun sudah disiapkan untuk
mulai mencernamakanan. Tentu saja diberikan bertahap pengenalannya. Bayi perlu mengenal jenis dan rasa secara awal berbagai makanan supaya memorinya tentang jenis dan rasa makanan cukup banyak. Hal ini penting untuk adaptasi selera. Sulit dilakukan adaptasi selera jika sudah terlanjur besar, contohnya banyak anak yang sulit sekali makan sayuran.
2. Penghematan sumberdaya, harga yang harus dibayar untuk susu formula jauh diatas harga susu cair. Susu Pasteurisasi terbaik, karena diolah dengan panas rendah, tanpa pengawet, hanya saja resiko penyimpanan (masa expired singkat, harus dalamrefrigerator) , tidak mudah mencapai segala kalangan dan lokasi pengiriman/distribusi terbatas.Susu UHT juga baik, diolah dengan panas tinggi dengan waktu sangat singkat, tanpa pengawet, lebih tahan simpan tidak perlu refrigerator selama kemasan belum dibuka dan kemasan tidak
berubah bentuk (tidak kembung/bocor) .
Kalau dibandingkan dari ketiga proses pengawetan susu dengan thermal/suhu tinggi, yang paling urutan potensi rusaknya vitamin dalam susu adalah:
1. Pembuatan susu bubuk
2. Pembuatan UHT
3. Pasteurisasi
Sehingga kenapa ada proses fortifikasi vitamin kedalam susu bubuk utk meningkatkan potensinya.
Misconception yang sering terjadi, kandungan vitamin dan tambahan2an asamlemak (linoleat, linolenat,AA, DHA) susu bubuk formula
lengkap sekali. Jadi seakan2harus minum susu formula meskipun sudah diatas 1 tahun.
Padahal susu bubuk formula banyak vitamin difortifikasi, untuk menggantikan banyak vitamin yang hilang dalam proses pengeringan bubuk susunya dan penggunaan campuran skimmilknya menurunkan kandungan asli vitamin larut lemak
dalam susu formula.

berikut tambahan informasi mengenai susu UHT
*Proses UHT : Upaya Penyelamatan Gizi Pada Susu* (copas dari milis mpasirumahan)
WASPADA Online
Oleh : Prof Dr Ir Made Astawan MS
Umumnya susu yang dikonsumsi masyarakat adalah susu olahan baik dalam bentuk cair (susu pasteurisasi, susu UHT ) maupun susu bubuk. Susu pasteurisasi merupakan susu yang diberi perlakuan panas sekitar 63-72 derjat Celcius selama 15 detik yang bertujuan untuk membunuh bakteri patogen. Susu pasteurisasi harus disimpan pada suhu rendah (5-6 derjat Celcius) dan memiliki umur simpan hanya sekitar 14 hari.
Susu bubuk berasal susu segar baik dengan atau tanpa rekombinasi dengan zat lain seperti lemak atau protein yang kemudian dikeringkan. Umumnya pengeringan dilakukan dengan menggunakan spray dryer atau roller drayer. Umur simpan susu bubuk maksimal adalah 2 tahun dengan penanganan yang baik dan benar. Susu bubuk dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis yaitu susu bubuk berlemak (full creammilk prowder), susu bubuk rendah lemak (partly skim milk powder) dan susu bubuk tanpa lemak (skim milk prowder) (SNI 01-2970-1999) .
Susu UHT (ultra high temperature) merupakan susu yang diolah menggunakan pemanasan dengan suhu tinggi dan dalam waktu yang singkat (135-145 derjatCelcius) selama 2-5 detik (Amanatidis, 2002). Pemanasan dengan suhu tinggi bertujuan untuk membunuh seluruh mikroorganisme (baik pembusuk maupun patogen) dan spora.
Waktu pemanasan yang singkat dimaksudkan untuk mencegah kerusakan nilai gizi susu serta untuk mendapatkan warna, aroma dan rasa yangrelatif tidak berubah seperti, susu segarnya. Proses Susu UHT Susu cair segar UHT dibuat dari susu cair segar yang diolah menggunakan pemanasan dengan suhu tinggi dan dalam waktu yang sangat singkat untuk membunuh seluruh mikroba, sehingga memiliki mutu yang sangat baik. Secara kesuluruhan faktor utama penentu mutu susu UHT adalah bahan baku ,proses pengolahan danpengemasannya. Bahan baku susu UHT cair segar adalah susu segar yang memiliki mutu tinggi terutama dalam komposisi gizi.
Hal ini didukung oleh perlakuan pra panen hingga pasca panen yang terintegrasi. Pakan sapi harus diatur agar bermutu baik dan mengandung zat-zat gizi yang memadai,bebas dari antibiotika dan bahan-bahan toksis lainnya. Dengan demikian, sapi perah akan menghasilkan susu dengan komposisi gizi yang baik. Mutu susu segar juga harus didukung oleh cara pemerahan yang benar termasuk di dalamnya adalah pencegahan kontaminasifisik dan mikrobiologis dengan sanitasi alat pemerah dan sanitasi pekerja.
Susu segar yang baru diperah harus diberi perlakuan dingin termasukt ransportasi susu menuju pabrik. Pengolahan di pabrik untuk mengkonversi susu segar menjadi susu UHT juga harus dilakukan dengan sanitasi
yang maksimum yaitu dengan menggunakanalat-alat yang steril dan meminimumkan kontak dengan tangan. Seluruh proses dilakukan secara aseptik. Susu UHT dikemas secara higienis, dengan menggunakan kemasan aseptik multilapis berteknologi canggih.
Kemasan multilapis ini kedap udara sehingga bakteri pun tak dapat masuk, kedalamnya. Karena bebas bakteri perusak minuman, maka susu UHT pun tetap segar dan aman untuk dikonsumsi. Selain itu kemasan multilapis susu UHT ini juga kedap cahaya sehingga cahaya ultra violettak akan mampu menembusnya dengan terlindungnya dari sinar ultraviolet maka kesegaran susu UHT pun akan tetap terjaga. Setiap kemasan aseptik multilapis susu UHT disterilisasi satu per satu secara otomatis sebelum diisi dengan susu.
Proses tersebut secara otomatis dilakukan hampir tanpa adanya campur tangan manusia sehingga menjamin produk yang sangat higienis dan memenuhi standar kesehatan internasional.Dengan demikian teknologi UHT dan kemasan aseptik multilapis menjamin susu UHT bebas bakteri dan
tahan lama tidak membutuhkan bahan pengawet dan tak perlu disimpan di lemari pendingin hingga 10 bulan setelah diproduksi.
Keunggulan Susu UHT
Kelebihan-kelebihan susu UHT adalah simpannya yang sangat panjang pada
suhu kamar yaitu mencapai 6-10 bulan tanpa bahan pengawet dan tidak
perlu dimasukkan ke lemari pendingin. Jangka waktu ini lebih lama dari umur
simpan produk susu cair lainnya seperti susu pasteurisasi. Selain itu susu UHT merupakan susu yang sangat higienis karena bebas dari seluruh
mikroba (patogen/penyebab penyakit dan pembusuk) serta spora sehingga
potensi kerusakan mikrobiologis sangat minimal, bahkan hampir tidak ada.
Kontak panas yang sangat singkat pada proses UHT menyebabkan mutu sensori (warna, aroma dan rasa khas susu segar ) dan mutu zat gizi, relatif tidak berubah. Proses pengolahan susu cair dengan teknik sterilisasi atau
pengolahan menjadi susu bubuk sangat berpengaruh terhadap mutu sensoris dan mutu,gizinya terutama vitamin dan protein. Pengolahan susu cair segar
menjadi susu UHT sangat sedikit pengaruhnya terhadap kerusakan protein.,
Di lain pihak kerusakan protein sebesar 30 persen terjadi pada,pengolahan susu cair menjadi susu bubuk. Kerusakan protein pada, pengolahan susu dapat berupa terbentuknya pigmen coklat (melanoidin) akibat reaksi Mallard. Reaksi Mallard adalah reaksi pencoklatan non enzimatik yang terjadi antara gula dan protein susu akibat proses pemanasan yang berlangsung dalam waktu yang cukup lama seperti pada proses pembuatan susu bubuk.
Reaksi pencoklatan tersebut menyebabkan menurunnya daya cerna protein. Proses pemanasan susu dengan suhu tinggi dalam waktu yang cukup lama juga dapat menyebabkan terjadinya rasemisasi asam-asam amino yaitu perubahan konfigurasi asam aminodari bentuk L ke bentuk D. Tubuh manusia umumnya hanya dapat menggunakan asam amino dalam bentuk L. Dengan demikian proses rasemisasi sangat merugikan dari sudut pandang ketersediaan biologis asam-asam amino didalam tubuh. Reaksi pencoklatan (Mallard) dan rasemisasi asam amino telah berdampak kepada menurunnya ketersedian lisin pada produk-produk olahan susu. Penurunan ketersediaan lisin pada susu UHT relatif kecil yaitu hanya mencapai 0-2persen. Pada susu bubuk penurunannya dapat mencapai 5-10 persen.
Tips Penggunaan Susu UHT:
1. Apabila kemasan susu UHT telah dibuka, maka susu tersebut harus disimpan pada refrigerator. Susu UHT harus dihindarkan dari penyimpanan pada suhu tinggi (di atas 50 derjat Celcius) karena dapat terjadi gelasi yaitu pembentukan gel akibat kerusakan protein.
Kerusakan susu UHT sangat mudah dideteksi secara visual, ciri utama yang umum terjadi adalah
kemasan menggembung. Gembungnya kemasan terjadi akibat kebocoran kemasan yang memungkinkan mikroba-mikroba penbusuk,tumbuh dan memfermentasi susu. Fermentasi susu oleh mikroba pembusuk menghasilkan gas CO2 yang menyebabkan gembung. Kerusakan juga ditandai oleh timbulnya bau dan rasa yang masam. Selain menghasilkan gas, aktivitas fermentasi oleh mikroba pembusuk juga menghasilkan alkohol dan asam-asamorganik yang menyebabkan susu menjadi berflavor dan
beraroma masam.
2. Hindari mengkonsumsi susu UHT yang telah mengental. Fermentasi
susu oleh bakteri pembusuk juga pembusuk juga menyebabkan koagulasi dan
pemecahan protein akibat penurunan pH oleh asam-asam organik. Koagulasi
dan pemecahan protein inilah yang menyebabkan tekstur susu rusak yaitu
menjadi pecah dan agak kental.
3. Jika ingin minum produk susu itu dalam kondisi
“hangat” disarankan untuk tidak merebusnya secara langsung karena itu akan
merusak kandungan,gizi dari susu dalam kemasan tersebut, apalagi jika memanaskannya sampai mendidih, karena tujuan dari pemanasan sebenarnya adalah untuk, sterilisasi produk tersebut. Jika hanya untuk selera saja (suka minuman hangat) merendam susu (terlebih dulu dituang dalam gelas) dalam air panas akan lebih baik.
Sebetulnya ada pertanyaan pendahulu yang lebih
penting: Anak yang mau diberi susu itu UMUR BERAPA? Kalau umurnya di bawah 1 tahun, kalau tidak bisa memperoleh ASI, satu-satunya pilihan ya susu formula.
Kalau sudah di atas 1 tahun, asupan gizi yang -dikatakan ditambahkan ke susu formula sehingga menjadikannya lebih lengkap dan lebih baik daripada susu cair biasa- sudah dapat diperoleh dari MAKANAN PADAT. Seperti yang kita tahu, sebelum 1 tahun, status makanan padat adalah PENDAMPING (ASI atau susu formula).
Di atas 1 tahun, kebalikannya, asupan utama nutrisi kita adalah dari makanan padat. Statusnya WAJIB. Susu bergeser status menjadi pendamping.
-siBoenda-