-siBoenda-

my life stories

Archive for the tag “imunisasi”

Pro – kontra hukum imunisasi dan vaksinasi

Seneng deh dapet link bacaan bagus di milis sehat…membahas tentang imunisasi / vaksinasi dari sisi medis dan syar’i nya. Boenda jadi pingin sharing dan save di blog untuk bahan referensi anak-anak someday ;)

sumber tulisan dibawah ini:

http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/pro-kontra-hukum-imunisasi-dan-vaksinasi.html

Penyusun:  dr. Raehanul Bahraen

Muraja’ah:

1. Ustadz Aris Munandar, SS.

2. Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, ST.

Senior dan guru bahasa Arab kami, sering membimbing dan menyemangati kami dalam menuntut ilmu agama, beliau adalah mahasiswa Jami’ah Malik Su’ud Riyadh KSA (Master of Chemical Engineering), rutin mengikuti kajian harian Syaikh Sholeh Al Fauzan dan kajian pekanan Syaikh Sa’ad Asy Syatsri.

Editor medis: dr. Muhammad Saifudin Hakim

seorang penulis buku, dosen di Fak. Kedokteran UGM, kakak tingkat kami di Fakultas Kedokteran UGM

sedang menempuh S2 Research Master of Infection and Immunity

di Erasmus University Medical Centre Rotterdam, Netherlands

Tuntas bagi kami pribadi, saat ini dan “mungkin” sementara karena bisa jadi suatu saat kami mendapat tambahan informasi baru. Kami hanya ingin membagi kelegaan ini setalah berlama-lama berada dalam kebingungan pro-kontra imunisasi. Pro-kontra yang membawa-bawa nama syari’at. Apalagi kami sering mendapat pertanyaan karena kami pribadi berlatar belakang pendidikan kedokteran. Pro-kontra yang membawa-bawa nama syari’at inilah yang mengetuk hati kami untuk menelitinya lebih dalam. Karena prinsip seorang muslim adalah apa yang agama syari’atkan mengenai hal ini dan hal itu.

Sebagai seorang muslim, semua jalan keluar telah diberikan oleh agama islam. Oleh karena itu kami berupaya kembali kepada Allah dan rasul-Nya.

 فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ

 “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya),” [An-Nisa-59]

Sebelumnya kami ingin menyampaikan bahwa imunisasi dan vaksinasi adalah suatu hal yang berbeda dimana sering terjadi kerancuan.

-Imunisasi: pemindahan atau transfer antibodi [bahasa awam: daya tahan tubuh] secara pasif. Antibodi diperoleh dari komponen plasma donor yang sudah sembuh dari penyakit tertentu.

-Vaksinasi: pemberian vaksin [antigen dari virus/bakteri] yang dapat merangsang imunitas [antibodi] dari sistem imun di dalam tubuh. Semacam memberi “infeksi ringan”.

[Pedoman Imunisasi di Indonesia hal. 7, cetakan ketiga, 2008, penerbit Depkes]

Pro-kontra imunisasi dan vaksin

Jika membaca yang pro, kita ada kecendrungan hati mendukung. Kemudian jika membaca yang kontra, bisa berubah lagi. Berikut kami sajikan pendapat dari masing-masing pihak dari informasi yang kami kumpulkan.

Pendapat yang kontra: 

  • Vaksin haram karena menggunakan media ginjal kera, babi, aborsi bayi, darah orang yang tertular penyakit infeksi yang notabene pengguna alkohol, obat bius, dan lain-lain. Ini semua haram dipakai secara syari’at.
  • Efek samping yang membahayakan karena mengandung mercuri, thimerosal, aluminium, benzetonium klorida, dan zat-zat berbahaya lainnya yg akan memicu autisme, cacat otak, dan lain-lain.
  • Lebih banyak bahayanya daripada manfaatnya, banyak efek sampingnya.
  • Kekebalan tubuh sebenarnya sudah ada pada setiap orang. Sekarang tinggal bagaimana menjaganya dan bergaya hidup sehat.
  • Konspirasi dan akal-akalan negara barat untuk memperbodoh dan meracuni negara berkembang dan negara muslim dengan menghancurkan generasi muda mereka.
  • Bisnis besar di balik program imunisasi  bagi mereka yang berkepentingan. Mengambil uang orang-orang muslim.
  • Menyingkirkan metode pengobatan dan pencegahan dari negara-negara berkembang dan negara muslim seperti minum madu, minyak zaitun, kurma, dan habbatussauda.
  • Adanya ilmuwan yang menentang teori imunisasi dan vaksinasi.
  • Adanya beberapa laporan bahwa anak mereka yang tidak di-imunisasi masih tetap sehat, dan justru lebih sehat dari anak yang di-imunisasi.

Pendapat yang pro:

  • Mencegah lebih baik daripada mengobati. Karena telah banyak kasus ibu hamil membawa virus Toksoplasma, Rubella, Hepatitis B yang membahayakan ibu dan janin. Bahkan bisa menyebabkan bayi baru lahir langsung meninggal. Dan bisa dicegah dengan vaksin.
  • Vaksinasi penting dilakukan untuk mencegah penyakit infeksi berkembang menjadi wabah seperti kolera, difteri, dan polio. Apalagi saat ini berkembang virus flu burung yg telah mewabah. Hal ini menimbulkam keresahan bagi petugas kesahatan yang menangani. Jika tidak ada, mereka tidak akan mau dekat-dekat. Juga meresahkan masyarakat sekitar.
  • Walaupun kekebalan tubuh sudah ada, akan tetapi kita hidup di negara berkembang yang notabene standar kesehatan lingkungan masih rendah. Apalagi pola hidup di zaman modern. Belum lagi kita tidak bisa menjaga gaya hidup sehat. Maka untuk antisipasi terpapar penyakit infeksi, perlu dilakukan vaksinasi.
  • Efek samping yang membahayakan bisa kita minimalisasi dengan tanggap terhadap kondisi ketika hendak imunisasi dan lebih banyak cari tahu jenis-jenis merk vaksin serta jadwal yang benar sesuai kondisi setiap orang.
  • Jangan hanya percaya isu-isu tidak jelas dan tidak ilmiah. Contohnya vaksinasi MMR menyebabkan autis. Padahal hasil penelitian lain yang lebih tersistem dan dengan metodologi yang benar, kasus autis itu ternyata banyak penyebabnya. Penyebab autis itu multifaktor (banyak faktor yang berpengaruh) dan penyebab utamanya masih harus diteliti.
  • Jika ini memang konspirasi atau akal-akalan negara barat, mereka pun terjadi pro-kontra juga. Terutama vaksin MMR. Disana juga sempat ribut dan akhirnya diberi kebebasan memilih. Sampai sekarang negara barat juga tetap memberlakukan vaksin sesuai dengan kondisi lingkungan dan masyarakatnya.
  • Mengapa beberapa negara barat ada yang tidak lagi menggunakan vaksinasi tertentu atau tidak sama sekali? Karena standar kesehatan mereka sudah lebih tinggi, lingkungan bersih, epidemik (wabah) penyakit infeksi sudah diberantas, kesadaran dan pendidikan hidup sehatnya tinggi. Mereka sudah mengkonsumsi sayuran organik. Bandingkan dengan negara berkembang. Sayuran dan buah penuh dengan pestisida jika tidak bersih dicuci. Makanan dengan zat pengawet, pewarna, pemanis buatan, mie instant, dan lain-lain. Dan perlu diketahui jika kita mau masuk ke beberapa negara maju, kita wajib divaksin dengan vaksin jenis tertentu. Karena mereka juga tidak ingin mendapatkan kiriman penyakit dari negara kita.
  • Ada beberapa fatwa halal dan bolehnya imunisasi. Ada juga sanggahan bahwa vaksin halal karena hanya sekedar katalisator dan tidak menjadi bagian vaksinContohnya Fatwa MUI yang menyatakan halal. Dan jika memang benar haram, maka tetap diperbolehkan karena mengingat keadaan darurat, daripada penyakit infeksi mewabah di negara kita. Harus segera dicegah karena sudah banyak yang terjangkit polio, Hepatitis B, dan TBC.

Terlepas dari itu semua, kami tidak bisa memastikan dan mengklaim 100% pihak mana yang benar dan pihak mana yang salah. Kami hanya ingin membagi kelegaan hati kami berkaitan dengan syari’at. Berikut kami sajikan bagaimana proses dari kebingungan kami menuju sebuah kelegaan karena kami hanya ingin sekedar berbagi.

Read more…

Dongeng di sore hari

enjoying my me-time, mumpung Aira lagi jalan-jalan sore naek becak sama mba ART, boenda pengen ngedongeng. Dan karena blog ini blog pribadi yo ngedongeng disini gapapalah yaaa, buat dibaca Aira dan adek (adeknya) kelak, insya Allah :)

Alkisah,

ada dunia kecil yang suka boenda singgahi, orang bilang itu dunia twitter

dari sana boenda banyak sekali dapet informasi berguna selain teman baru tentunya

suatu ketika, ada RT tentang komunitas donor ASI, ah menarik! boenda follow accountnya dan boenda pun follow pentolan komunitas, seorang muslimah, dokter, yang sepertinya juga konselor laktasi seperti boenda. Boenda suka baca segala sesuatu tentang laktasi di kedua account twitter ini. Beberapa kali kami “ngobrol” lewat twitter  tentu masalah laktasi.

Sampai suatu saat boenda tau dari account twitter , oooh kami bersebrangan untuk masalah imunisasi / vaksinasi. Boenda baca timeline nya tentang aktivitasnya mengadakan kampanye “say no to vaccine”  di bunderan HI beberapa waktu yang lalu, boenda juga tau beliau juga mengkampanyekan via radio Dakta saat itu. Informasi ini, beliau tulis di account twitternya. Saat itu tanggapan boenda? oh ya sudahlah, toh sedari awal boenda follow account twitternya karena urusan laktasi. titik. boenda ga pernah kasi tanggepan apapun baik di twitter atau menulis hal-hal yang bersebrangan dengan beliau di blog ini

Kalaupun, ada tulisan boenda yang pro- vaksin bukan dengan maksud menyerang beliau, tapi ya emang boenda cuma pengen nulis informasi yang boenda ketahui di blog ini untuk jadi salah satu bahan referensi bacaan Aira dan adek (adek) kelak. Blog ini kan juga sarana menuliskan opini, dan karena sedari awal boenda sudah mengatakan boenda pro terhadap vaksinasi / imunisasi, jadi wajar dong kalo opini yang boenda tulis disini yaaa berbau dukungan untuk melakukan imunisasi

Kagetnya boenda, waktu tau salah satu postingan boenda dibahas (kalau ga mau dibilang dijadikan bahan olokan) oleh beliau di grup FBnya tanpa konfirmasi terlebih dahulu. Padahal kan ya kalau beliau ga berkenan dengan tulisan boenda, beliau bisa tulis langsung di kolom komentar blog ini.

Boenda coba bahas di grup facebook yang dia kelola, ternyata ga bisa karena ada moderasinya dan boenda memang bukan member grup tersebut. Wall di facebook pribadinya di protect, ada teman boenda yang kebetulan masuk dalam friendlist facebooknya sposting  tanggapan boenda atas tulisaan beliau, ternyata postingan teman ini dihapus. dan well, kaget juga baca salah satu status facebook si dokter ini yang dicopas teman boenda ke boenda :

Baru baca uraian ttg vaksinasi Ashi alias engrafting dr sebuah blog.. Membacanya cukup membuatku tersenyum dan menguatkan bahwa vaksin memang berbahaya.. Tunggu yah uraian analisaku dan jawabanku thd isi blog tsb.. Anyway diam memang lbh baik drpd banyak bicara plus ghibah, hanya semakin menunjukkan ke”pintar”an seseorang ;)

 

oh well maksudnya apa ya?? *hening*

dan ajakan boenda untuk dia baca lagi postingan boenda sebagai tanggapan atas tulisan yang dia buat di grupnya, dijawab dengan:

“maaf tidak ada waktu lg buat ocehan semata ;) urusan umat lebih penting. Tks atas undangannya. YOUR KIDS, YOUR FUTURE, YOUR CHOICE”

*padahal bukan ocehan biasa kan yaaa,..boenda copas argumen ilmiah kok*

 

dan setelah mentioned ini, beliau sepertinya unfollow account twitter boenda. karena dari status twitternya tertulis “….. is not following you”  padahal haqul yakin, sebelumnya beliau follow boenda

hehehehehe jadi tau, beliau ternyata bukan orang yang siap diskusi terbuka rupanya… beraninya main belakang, ga pake permisi, main hajar tulisan orang di grup pendukungnya sendiri, dan yes nyinyir lewat status di facebook pribadinya

ah, anak gadis boenda sudah pulang dari jalan-jalan sore naek becak. Tampak boenda harus mengakhiri sesi me-time nya boenda. Walhasil, cukup sekian dongeng di sore ini :)

-siBoenda-

Re-Learning part 1.. Imunisasi (3)

Wow… ternyata ada tamu blog ini membahas tentang postingan boenda tentang imunisasi yang ini di grup facebooknya dokter pula yang mencounter hehehehe jadi merasa terhormat, tapi mbok dicolek-colek dulu tho siempunya blog *blushing*

Darimana taunya??

ehem,.. kebeneran ada yg posting counter balik si mba dokter ke milisnya ayah. Nah, ayah pan kalau ada pembahasan tentang imunisasi di milisnya, selalu mem-forward email tersebut ke boenda. Waktu boenda baca, DOENK! yang dicounter balik mba dokter nya ternyata postingan boenda…huahahahaha

sayang banget sih mba, lha wong dirimu dan diriku kan saling follow di twitter, colek-colek dulu dong kalau emang ga berkenan. Atau bisa langsung kasi tanggapan di blog ini =))

lets see, apa yg dicounter dari blognya boenda, ini boenda ambil dari tulisan beliau di grup FBnya (sayang sekali, boenda bukan member grupnya)

Bismillah. Assalamu’alaykum wa rahmatullah.
Perdebatan pro – kontra vaksin sepertinya kian memanas, mengingat dalam 1 minggu ke depan adalah Pekan Imunisasi Nasional (PIN) dimana semakin banyak orangtua cerdas memilih uuntuk menghindari vaksin. Berbagai macam alasan para orangtua untuk memilih mengatakan TIDAK UNTUK VAKSINASI, kelompok ini lebih dikenal dengan kelompok kontra vaksinasi sebaga…i kelompok minoritas. Diantara alas an mereka adalah kekhawatiran akan bahaya vaksin dan dari segi halal/haramnya produk yang digunakan. Sebagai Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, tentunya wajar sekali jika isu halal/tidaknya menjadi perhatian khusus para orangtua.

Dan hal tersebut pula yang saya kritisi kepada pihak Biofarma, sebagai produsen vaksin lokal. Dimana sepengetahuan saya bahwa dalam menentukan halal/tidaknya sebuah produk, diwajibkan proses audit dari LPPOM MUI. Namun ternyata, lembaga tersebut tidak pernah mengaudit dan pihak Biofarma mengakui bahwa mereka tidak pernah meminta untuk diaudit. Aneh bukan? Pengakuan ini saya peroleh ketika menghadiri debat pro-kontra imunisasi yang diselenggarakan oleh majalah Ayahbunda di Jakarta.

Dalam 1 minggu menjelang dilaksanakannya PIN, situasi perdebatan semakin memanas. Kemudian muncul sebuah argumentasi yang memojokkan pihak kontra vaksinasi melalui sebuah blog.
Uraian ini bukan untuk menyudutkan siapapun, lebih memberikan ketegasan sikap atas PRINSIP DASAR ALASAN bagi pihak kontra dalam menolak vaksinasi. Saya akan mencoba menjabarkan secara bertahap analisa dan jawaban atas argumentasi di bawah ini.

Dari sebuah blog yang saya baca, menuliskan bahwa “sistem imunisasi/vaksinasi berasal dari dokter-dokter muslim zaman khalifah Turki Utsmani, dan cikal bakalnya sudah ada dari zaman khilafah abbasiyah. Referensi informasi tersebut menurut penuturan si pengirim sumber email ada pada buku “1001 Inventations Muslim Heritage in Our World” page 178. Tertera: “The Anatolian Ottoman Turks knew about methods of vaccination, they called vaccination Ashi. or engrafting, and they had inherited it form older turkic tribes”

Dalam hati, sejujurnya saya terkagum-kagum bahwa begitu hebatnya ilmuwan Islam namun hingga saat ini dunia barat pun masih belum memberikan pengakuan kepada para ilmuwan Islam. Satu kata yang menarik perhatian saya adalah “ENGRAFTING”. Saya memiliki latar belakang pendidikan dokter umum dan kebetulan ayah adalah seorang dokter spesialis bedah, sehingga kata “ENGRAFTING” sudah sering saya dengar sejak beranjak remaja.
Jika merujuk pada kamus kedokteran maka kata tersebut memiliki arti melakukan penanaman pada bagian tubuh, bisa kulit dan sebagainya.

Lalu karena semakin penasaran akan istilah ASHI / ENGRAFTING di jaman tersebut, maka saya telusuri mbah google demi memuaskan keingintahuan. Prinsip dasar saya bahwa ilmu yang diterima haruslah seimbang, dalam arti cek dan ricek adalah penting.

Sebagai kelanjutan kisah terhadap blog tersebut, maka mari kita lanjutkan hingga selesai uraian tersebut yah.

“Informasi berikutnya adalah Lady Mary Wortley Montagu (1689- 1762), istri dari duta besar Inggris untuk Turki saat itu, membawa system vaksinasi ke Inggris untuk memerangi smallpox, tapi ditolak oleh pemerintahan Inggris saat itu.
Untuk informasi mengenai Lady Mary ini, bisa juga dibaca di: www/.psychologytoday.com/blog/child-myths/200909/lady-mary-wortley-montagucontributor-public-health

Berikut kutipan tulisan pada URL tersebut:
“Lady Mary Wortley Montagu was a pretty girl until she had smallpox at age 26 and was left with many pitted scars on her face and no eyelashes. Her only brother died of the disease. Despite her disfigurement, Lady Wortley Montagu recovered her health and energy. (And we should remember
that plenty of other people had smallpox scars on their faces at that time, so the impact was not exactly what it would be if someone today had the same appearance.) With her husband, who was the British Ambassador to Turkey, and their little son and daughter, she traveled to what was then part of the Ottoman Empire.
She watched with interest as Turkish women carried out a method of inoculation for smallpox. This she described in letters to her family back in England. The Turks waited until cool fall weather came after the heat of the summer was over. They inoculated children by using the purulent matter from the sores of a person who had become infected with smallpox. Cutting into 5 or 6 veins (on the legs or upper parts of the arms), they poked the smallpox matter into the incision and then bandaged the site. The children seemed fine for some days, developed a fever for a few more days, and then generally recovered — immune to smallpox. Lady Wortley Montagu decided to have her own young son inoculated, accepting the fact that a small number of children were harmed by the inoculation, and he recovered
well— immune to smallpox. Returning to England, Lady Wortley Montagu began efforts at public education about inoculation. Her friendship with the then Princess of Wales, later Queen Caroline, was a great support to her work (although it’ s probably the case that Lady Mary could have accomplished more if she’d had fewer boyfriends, who didn’t seem to mind the lack of eyelashes). Because of these efforts, the British public was prepared to pay attention 30 years later when Edward Jenner published his evidence about smallpox vaccination.”

Semakin penasaran dengan kisah diatas, maka saya telusuri lebih jauh tentang smallpox, Edward jenner dan ashi Turkic tribes. Pencarian akhirnya membuat saya menemukan link ini http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1200696/ dimana dalam link ini merupakan jurnal ilmiah akan sejarah Edward Jenner sebagai penemu vaksin cacar air/smallpox.

Dalam pengkajian lebih lanjut, semakin memperkuat keyakinan saya bahwa vaksin saat ini dengan teknologi modern memang berbahaya tidak hanya bagi orangtua namun juga bagi bayi dan anak-anak.

Prinsip dasar ASHI atau Inokulasi pada jaman itu hampir sama dengan prinsip vaksinasi alamiah yang masyarakat lakukan terhadap campak. Tentunya ayah bunda pernah mendengar anjuran banyak pihak bahwa jika ada yang sakit campak, maka biarkanlah anak kita tertular dengan demikian anak akan memiliki antibody terhadap penyakit tersebut dengan sendirinya.
Nah ASHI, memang memaparkan penyakit terhadap orang sehat dengan cara melakukan sayatan pada kulit daerah subkutan dan memberikan bagian dari cacar air kedalamnya. Mirip namun tak sama dalam hal teknis.

Kemudian bisa dibaca pula uraian mengenai peran wanita tersebut diatas dalam dunia kesehatan masyarakat pada link ini eurpub.oxfordjournals.org/content/18/4/353.full

Setelah tuntas membaca dan mengkaji, Alhamdulillah keyakinan saya tidak berubah bahkan semakin menguatkan bahwa vaksin kimia saat ini yang dipergunakan memang berbahaya.

Mereka telah salah memahami bahwa penolakan kami adalah pada prinsip vaksinasinya. Padahal, penolakan kami adalah penggunaan bahan kimia yang berbahaya didalam vaksin modern tersebut. Jika dianalisa dari tindakan vaksinasi “kuno”, bisa kita pahami bahwa jaman itu mereka TIDAK menggunakan bahan-bahan kimia seperti merkuri, garam alumunim, atau bahkan menggunakan media hewan haram dalam proses pengembangbiakkan kuman/virus.

Bagaimanapun dalam hati kecil saya saat membaca dan mencari tahu lebih jauh, berpegangan pada prinsip bahwa seorang MUSLIM akan menghindari penggunaan bahan haram dan berbahaya. Dan itu TERBUKTI.

Untuk mengetahui bagaimana peran garam alumunium dalam tubuh, silakan dibaca penelitian ini dimana garam alumunium yang disuntikkan kedalam tubuh seekor tikus memberikan kerusakan bahkan kehancuran dari sel setiap organ tikus tersebut. Dosis yang digunakan tentunya disesuaikan dengan tubuh tikus tersebut. Lalu bagaimana dengan tubuh seorang bayi yang dilakukan berulang kali?

Link terhadap penelitian alum atau garam alumunium bisa dibaca disini :
- http://therefusers.com/refusers-newsroom/aluminum-based-adjuvants-cause-cell-death-and-release-of-host-cell-dna/
- http://www.sciencedaily.com/releases/2011/07/110717204910.htm
- http://www.nature.com/nm/journal/v17/n8/full/nm.2403.html
- http://www.ncbi.nlm.nih.gov/m/pubmed/21568886/

Link diatas hanyalah mengenai fakta akan bahaya garam alumunium yang digunakan sebagai bahan adjuvant di SEMUA vaksin. Untuk bahan vaksin lainnya, silakan ayah bunda telusuri mbah google dan belajar menganalisa sendiri yaahh..

Mari lanjutkan uraian dari blog diatas : “Adalagi informasi lainnya. Untuk vaksinasi dasar, Indonesia telah berhasil membuat vaksin sendiri, sudah terbukti uji klinis dan epidemiloginya, bahkan dieskpor untuk kepentingan regional Asia Tenggara, di Biofarma, Bandung.
Masalah yang berkembang dan mencuat belakangan adalah vaksinasi tambahan, termasuk meningitis untuk calon jamaah haji atau vaksin HPV, yang masih diproduksi oleh produsen luar negeri semisal GSK.
*menurut penuturan seorang guru ngaji bahwa kebetulan beliau bekerja di balai POM, sudah ada vaksin meningitis yang halal untuk calon jemaah haji*”

Mengenai vaksin meningitis, ayah bunda bisa baca sendiri di harian Republika edisi Jumat tanggal 14 Oktober 2011. Vaksin tersebut bahkan baru-baru ini kembali dikritisi oleh Mantan Menkes Siti Fadhillah Sapari bahwa semua vaksin tersebut tetap mengandung bahan haram alias babi. So, menurut saya dalam mencari sebuah iinformasi bukan sekedar berbicara dengan seseorang yang ilmunya terbatas.

Alhamdulillah informasi ini saya dapatkan LANGSUNG dari bu DR. dr Siti Fadhillah Sapari, SpJK (K) sebagai mantan menkes lohh.. Ditambah dengan pengakuan dari Biofarma bahwa mereka TIDAK PERNAH diaudit oleh pihak yang berwenang dan dalam hal ini adalah LP POM MUI.

Kalimat terakhir yang mendorong saya untuk meluruskan informasi dari blog tersebut adalah pernyataan bahwa seseorang yang bukan berasal dari kedokteran sebagaimana tertulis demikian “apalagi kalau munculnya dari orang-orang yang bukan ahlinya, atau bahkan ga punya background pendidikan kedokteran sama sekali.”

Buat saya, seorang dokter atau bukan – ia punya kemampuan untuk BELAJAR dari siapapun. Gelar dan sebagainya bukan jaminan bahwa individu tersebut akan berkata benar. Belajar adalah kata kunci yang luar biasa. Bahkan Rasulullah shalallahu alayhi wa salam menyuruh kita untuk tidak taqlid atau belajar seperti kerbau dicucuk hidungnya, dimana apapun perkataan seseorang yang dianggap pintar dijadikan hukum tanpa mempelajari lebih jauh. Dan Alhamdulillah informasi yang saya terima justru berasal dari sosok-sosok yang memiliki kompetensi tinggi, seperti DR. dr. Siti Fadhillah Sapari, SpJK(K) dan Prof. DR. Hasyim dari LP POM MUI.

Kritikan tajam saya tujukan pada kalimat ini “sorry to say, maap- maap yeee kalo agak kasar, menurut saya, orang tua yang menganggap tidak mengimunisasi anaknya adalah pilihan terbaik dan adalah hak dia untuk memilih untuk tidak mengimunisasi adalah orang tua yang LUPA, lupa bahwasanya ada HAK ORANG LAIN untuk merasa aman dari ancaman penyakit yang mematikan.”

Sebagai seorang dokter, saya memahami dengan baik bahwa jika kuman yang disuntikkan dalam tubuh seseorang dengan daya tahan tubuh yang menurun maka kuman/virus tersebut menjadi aktif bahkan menginfeksi tubuh yang menerima vaksin tersebut. Dalam hal ini, siapakah yang berjalan-jalan membawa bahan penyakit dan memiliki resiko memberikan penularan kepada anak lainnya yang sehat? Sehat tanpa bahan kimia, sehat karena ibunya memberikan pengobatan ala Rasulullah shalallahu alayhi wasalam?
Ditambah lagi pengakuan dari salah seorang karyawan Biofarma bahwa penyimpanan vaksin tersebut di beberapa wlayah pelosok Indonesia TIDAK MEMENUHI STANDAR, sehingga kemungkinan vaksin rusak atau terkontaminasi sangat besar.

Kembali pada kisah di blog tersebut “mau ngutip kalimat temennya ayah, beliau punya background pendidikan kedokteran dan sedang mengambil jenjang spesialis, aaahh:
“ﻪّﻠﻟَﺍ sdh Mengaruniakan akal buat kita, ilmu pengetahuan manusia sudah tahu tentang vaksinasi, kampanye sudah dijalankan, digratiskan lagi oleh pemerintah. Secara rasional, ga ada alasan lagi untuk ga vaksinasi jadi, anggapan bahwa imunisasi / vaksinasi berasal dari kedokteran barat yang penuh konspirasi untuk melemahkan umat muslim, gimana?”

Sebagai seorang dokter, walaupun dokter umum, satu hal yang saya ketahui bahwa pribadi muslim diberikan akal dan pikiran pertama kali yang dilakukannya adalah YAKINI AYAT-AYAT ALLAH dan RASULNYA. Selanjutnya baru kaji dan telaah.

Saya dan orangtua kontra vaksin kimia telah memilih ASI sebagai vaksin alami, karena kami meyakini QS. AL BAqarah : 233 dan dari ayat tersebut kami kaji lebih jauh. Saya pribadi membutuhkan waktu 7 tahun untuk meyakini bahwa inilah maksud dari ayat Allah subhanahu wa ta’ala itu, bahwa ASI adalah VAKSIN ALAMI bagi setiap anak manusia yang lahir di muka bumi.

Bukti ilmiahnya apa? Silakan membaca pada link dibawah ini, bahwa dr Albert Sabin pada awal merintis percobaan vaksin polio – beliau menggunakan kolostrum manusia dan sapi sebagai obat. Jurnal ini menunjukkan bahwa hewan yang terinfeksi oleh polio, 84% sembuh dengan pemberian kolostrum.

http://pediatrics.aappublications.org/content/29/1/105.full.pdf+html

Pada akhir kisah dalam blog tersebut, penulis menuliskan “Silahkan menilai dan menjawab sendiri yaaaa”

Maka saya menjawab “Betul, mari silakan menilai dan menjawab sendiri. Kebenaran hanyalah milik Allah subhanahu wa ta’ala semata dan kelemahan adalah dalam diri saya sebagai penulis. BELAJAR dan DO’A untuk mendapatkan cahaya kebenaran. Semoga ayah bunda tidak membutuhkan waktu selama 7 tahun seperti saya dalam meyakini kebenaran tersebut.”

Sekali lagi bukanlah sekedar halal/haram semata namun BAHAN KIMIA didalam vaksin tersebutlah yang mendorong kami untuk mengatakan dengan lantang “NO TO VACCINE”.

nah,…

berhubung boenda SADAR se- SADAR-SADARnya background pendidikan boenda bukanlah kedokteran, penjelasan berikut bukanlah penjelasan ilmiah dari boenda, tapi merupakan penjelasan ilmiah dari teman ayah seorang dokter yang sedang mengambil pendidikan spesialis

berikut counter balik untuk tulisan mba dokter =)

“Membahas vaksin memang bisa ke mana2 dan mengaburkan substansinya. Tulisan sejawat yg saya tertarik latar belakang pendidikan dan karirnya ini, sayang tidak bs ditanggapi scr ilmiah krn substansi kebermanfaatan vaksin mjd kabur dg:
1. Penulis malah lebih banyak membedah buku 1001 moslem heritage dan jelas ini sudah keluar substansi.

2. Tidak diauditnya Biofarma dg LPPOM MUI saya belum tahu informasi kebenarannya, tp ya jangan salahkan vaksinnya dong lalu dituduh jika tidak diaudit sama dengan tidak halal. salahkan LPPOM MUI-nya kenapa “malas”.
Tp info terakhir kan kita tahu, MUI sudah mengeluarkan pernyataan vaksinasi halal kan?

Tapi saya coba menanggapi agak2 ilmiah dari pernyataan tulisan tsb:

1. Ttg tulisan: “Setelah tuntas membaca dan mengkaji, Alhamdulillah keyakinan saya tidak berubah bahkan semakin menguatkan bahwa vaksin kimia saat ini yang dipergunakan memang berbahaya.” :

ada kejanggalan ilmiah di sini, yaitu istilah vaksin kimia. Vaksin itu bukan obat yg tdd dari agen kimia tp virus/kuman yg dilemahkan, dg kata lain agen biologis (mahluk hidup) bukan kimia. Jika ada media garam aluminium dan merkuri,bukan berarti vaksin kimia jg namanya.

Seiring berkembangnya zaman, setahu saya
Dan pendasaran kosakata berbahaya itu harus jelas indikatornya. Misalnya angka kematian,kecacatan dsb. Indikator ini yg tidak disinggung. Semestinya penulis menampilkan indikator angka kematian,kecacatan komunitas yg tidak divaksin dibandingkan yg divaksin untuk menyangga argumen dia. Saya malah bertanya balik jadinya, lebih berbahaya mana tidak divaksin dan divaksin?

Argumentasi “berbahaya” si penulis didasarkan oleh teknik inokulasi dan peran seorang perempuan tertentu. Jelas tidak relevan. Pertama,tentu tak adil jika menyamakan teknik vaksinasi skrg dg teknik zaman dulu misalnya inokulasi, apalagi bawa2 peran seorang perempuan yg konspiratif banget dan sekali lagi sudah keluar substansi.

2. “Link diatas hanyalah mengenai fakta akan bahaya garam alumunium yang digunakan sebagai bahan adjuvant di SEMUA vaksin. “

Tidak SEMUA vaksin mengandung garam aluminium, silakan dibaca di www.immunizationinfo.org. Garam aluminium sebagaimana obat dan zat lain, punya kadar aman dlm tubuh dan kadar itulah yg dipastikan aman yg ada dlm vaksin. Tidak relevan membahas suatu zat tanpa membahas ukuran (dosis)nya. Bisa saja saya mengungkap Paracetamol bikin mati krn gagal hati berat dan keracunan saraf, tp itu hanya terjadi pada dosis mega/sangat besar. Tp kan jadinya ga relevan membahas itu untuk konteks minum obat flu yg ada paracetamolnya dg dosis kecil.

Sementara fakta2 yg diajukan di link bukan mengenai garam aluminium berkadar tepat di vaksin kan? Jd Benar-Benar tp tdk Berhubungan (zaman UMPTN dulu jawabannya B).

3. “Saya pribadi membutuhkan waktu 7 tahun untuk meyakini bahwa inilah maksud dari ayat Allah subhanahu wa ta’ala itu, bahwa ASI adalah VAKSIN ALAMI bagi setiap anak manusia yang lahir di muka bumi.”

Kita doakan اِ نْ شَآ ءَ اللّهُ di tahun ke-8 saudara kita ini menjadi faham bahwa ASI jelas bukan VAKSIN ALAMI. Krn di dalam ASI tidak ada kuman yg dilemahkan, yg ada adalah imunoglobulin. Imunoglobulin mmg adalah tentara penjaga,ttp dlm kerjanya ia ga bs langsung tembak2an sama musuh,ia harus mengenali musuh itu dulu. Mengenali musuh itu butuh waktu, shg saat serangan pertama pasukan musuh berjumlah besar sang tentara akan kocar-kacir krn tak mengenali. Itu jg yg jd prinsip vaksinasi. Ia memberi musuh yg dilemahkan dan jumlahnya sedikit untuk dikenali sm tentara (ibaratnya ngasi latihan tempur kontra teror sm tentara kita). Shg jk berhadapan dg musuh beneran,tentara kita udh terlatih krn udah kenal luar dalem musuhnya. Jadi jelas pola spt ini tdk ada dlm pemberian ASI,maka tdk tepat menyebut ASI adalah vaksinasi alami.

4. “Sebagai seorang dokter, saya memahami dengan baik bahwa jika kuman yang disuntikkan dalam tubuh seseorang dengan daya tahan tubuh yang menurun maka kuman/virus tersebut menjadi aktif bahkan menginfeksi tubuh yang menerima vaksin tersebut.”

Ya makanya jangan memvaksin anak qt jika dia sedang sakit, begitu solusinya dan bukan jadi tidak divaksin lah. Counter argumen yg disampaikan dg membawa2 prolog “sebagai seorang dokter” jadinya nampak kurang oke. Krn ini coba dia sampaikan untuk memukul argumen anak yg ga divaksin itu kurang peduli dg sosialnya yg bs ikut terinfeksi”

terus mba dokter, ini ada pesan dari teman suami:

“Sekian tanggapan agak2 ilmiah saya terhadap tulisan yg lebih sarat sentimennya daripada keilmiahannya. Salam hangat buat sejawat ybs, mari sama2 belajar lagi.”

yuk deh mariiii,…

Dear mba dokter yang saya hormati,

hehehehehe sayang ya mba, kita berdua bisa bersepakat tentang urusan laktasi, tapi dalam hal imunisasi / vaksinasi kita berada pada titik yang bersebrangan =)

sayang sekali, saya bukan member grup facebooknya mba, jadi ga punya kesempatan untuk memberikan tanggapan atas tulisan mba disana. Hal ini yang memprihatinkan saya, tulisan saya di blog ini dikutip dan dijadikan pembahasan di dalam grup mba (kalau tidak mau dianggap sebagai bahan olok-olokkan) tanpa ada kesempatan saya untuk memberi jawaban dan konfirmasi

Warm Regards,

-siBoenda-

Re-Learning part 1… Imunisasi (2)

Masih kisaran tentang imunisasi, beberapa hari yg lalu ayah mem-forward beberapa email dari temann-temannya ke boenda. Karena di salah satu milis yang ayah ikuti, sedang ada diskusi panjang tentang imunisasi.

Cukup menarik informasinya, dan membuat pengetahuan boenda tentang imunisasi jadi bertambah *dan bertambah yakin juga untuk tetap mengimunisasi anak-anak*

di salah satu email itu disebutkan, sistem imunisasi / vaksinasi berasal dari dokter-dokter muslim zaman khalifah Turki Utsmani, dan cikal bakalnya sudah ada dari zaman khilafah abbasiyah. Referensi informasi tersebut menurut penuturan si pengirim sumber email ada pada buku “1001 Inventations Muslim Heritage in Our World” page 178. Tertera:

“The Anatolian Ottoman Turks knew about methods of vaccination, they called vaccination Ashi. or engrafting, and they had inherited it form older turkic tribes”

Informasi berikutnya adalah

Lady Mary Wortley Montagu (1689-1762), istri dari duta besar Inggris untuk Turki saat itu, membawa sistem vaksinasi ke Inggris untuk memerangi smallpox, tapi ditolak oleh pemerintahan Inggris saat itu.

untuk informasi mengenai Lady Mary ini, bisa juga dibaca di:

http://www.psychologytoday.com/blog/child-myths/200909/lady-mary-wortley-montagu-contributor-public-health

berikut boenda kutip tulisan pada URL tersebut:

“Lady Mary Wortley Montagu was a pretty girl until she had smallpox at age 26 and was left with many pitted scars on her face and no eyelashes. Her only brother died of the disease. Despite her disfigurement, Lady Wortley Montagu recovered her health and energy. (And we should remember that plenty of other people had smallpox scars on their faces at that time, so the impact was not exactly what it would be if someone today had the same appearance.) With her husband, who was the British Ambassador to Turkey, and their little son and daughter, she traveled to what was then part of the Ottoman Empire.

She watched with interest as Turkish women carried out a method of inoculation for smallpox. This she described in letters to her family back in England. The Turks waited until cool fall weather came after the heat of the summer was over. They inoculated children by using the purulent matter from the sores of a person who had become infected with smallpox. Cutting into 5 or 6 veins (on the legs or upper parts of the arms), they poked the smallpox matter into the incision and then bandaged the site. The children seemed fine for some days, developed a fever for a few more days, and then generally recovered — immune to smallpox. Lady Wortley Montagu decided to have her own young son inoculated, accepting the fact that a small number of children were harmed by the inoculation, and he recovered well— immune to smallpox.

Returning to England, Lady Wortley Montagu began efforts at public education about inoculation. Her friendship with the then Princess of Wales, later Queen Caroline, was a great support to her work (although it’s probably the case that Lady Mary could have accomplished more if she’d had fewer boyfriends, who didn’t seem to mind the lack of eyelashes). Because of these efforts, the British public was prepared to pay attention 30 years later when Edward Jenner published his evidence about smallpox vaccination.”

kebetulan, si pengirim informasi menambahkan postingan email boenda ke milis sehat, di halaman selanjutnya buku “1001 Inventations Muslim Heritage in Our World” disebutkan bahwa pada tahun 1967 Turki mengeluarkan perangko untuk memperingati 250 tahun vaksin smallpox di Turki.

Adalagi informasi lainnya. Untuk vaksinasi dasar, Indonesia telah berhasil membuat vaksin sendiri, sudah terbukti uji klinis dan epidemiloginya, bahkan dieskpor untuk kepentingan regional Asia Tenggara, di Biofarma, Bandung. Masalah yang berkembang dan mencuat belakangan adalah vaksinasi tambahan, termasuk meningitis untuk calon jamaah haji atau vaksin HPV, yang masih diproduksi oleh produsen luar negeri semisal GSK.

*menurut penuturan guru ngaji boenda, kebetulan beliau bekerja di balai POM, sudah ada vaksin meningitis yang halal untuk calon jemaah haji*

Boenda pun manggut-manggut waktu baca opini teman-temannya ayah yang punya background pendidikan kedokteran. Iya juga, program imunisasi itu kan penelitiannya melibatkan ratusan juta orang, yah dan sudah terbukti manfaatnya. Jadi agak lucu dan aneh boenda bilang kalo bukti2 ilmiah itu digugurkan oleh evidence yg sekelas testimoni, atau asumsi-asumsi yang belum tentu terbukti secara luas kebenarannya apalagi kalau munculnya dari orang-orang yang bukan ahlinya, atau bahkan ga punya background pendidikan kedokteran sama sekali.

sorry to say, maap-maap yeee kalo agak kasar, menurut boenda,

orang tua yang menganggap tidak mengimunisasi anaknya adalah pilihan terbaik dan adalah hak dia untuk memilih untuk tidak mengimunisasi adalah orang tua yang LUPA, lupa bahwasanya ada HAK ORANG LAIN untuk merasa aman dari ancaman penyakit yang mematikan.

(again) IMHO, jumlah vaksin di seluruh dunia emang banyak, ga perlu memberikan semuanya, tapi paling ga kasihlah imunisasi dasar yang udah jadi program pemerintah. lha wong penyakit yang diimunisasi itu endemik di Indonesia

mau ngutip kalimat temennya ayah, beliau punya background pendidikan kedokteran dan sedang mengambil jenjang spesialis, aaahh:

اَللّه sdh Mengaruniakan akal buat kita, ilmu pengetahuan manusia sudah tahu tentang vaksinasi, kampanye sudah dijalankan, digratiskan lagi oleh pemerintah. Secara rasional, ga ada alasan lagi untuk ga vaksinasi

jadi, anggapan bahwa imunisasi / vaksinasi berasal dari kedokteran barat yang penuh konspirasi untuk melemahkan umat muslim, gimana? silahkan menilai dan menjawab sendiri yaaaa :)

-siBoenda-

**untuk menambah bacaan tentang imunisasi / vaksinasi, bisa meluncur kesini**

Re-learning Part 1… Imunisasi

Gara-gara juengkel karena tidur siang boenda keganggu mba-mba yg siang-siang bolong dateng ke rumah orang buat nawarin demo bikin kue  (-__-”)

*nyang boneng aje lho mba, ujug-ujug dateng mau bikin demo di rumah orang jam 2 siang*

bikin boenda ga bisa tidur lagi, jadilah daripada ngomel2 ga jelas, boenda coba produktip posting blog sajah

Belajar dari pengalaman waktu hamil Aira, boenda jadi pingin baca-baca tentang banyak hal yg dulu ga boenda ketahui. Nah, dalam semingguan ini, boenda habis baca-baca tentang jaundice, fimosis dan imunisasi. Maksudnya sih pengen posting hasil baca-baca ketiga hal tersebut, tapi kayanya ttg imunisasi dulu aja kali yah. Postingan tentang jaundice dan fimosisnya, insya Allah akan boenda tulis di lain waktu.

boenda termasuk emak yang pro-imunisasi, alasannya ada di postingan yang ini. Hal-hal yang boenda pelajari berkisar tentang apa itu vaksin hidup, vaksin mati, kapan saatnya imunisasi perlu ditunda, apa itu imunisasi simultan dan termasuk kembali pelajari masalah halal dan haramnya imunisasi.

Sumber utama bacaan boenda banyak berasal dari arsipnya milis sehat, sudah boenda save di bb tapi pikir boenda takut ntar bb nya kenapa2 terus malah ilang dan harus ngubek2 lagi mending boenda posting di blog aja deh. lagipula, siapa tau postingan ini bermanfaat untuk anak-anak boenda kelak maupun untuk orang lain, ya tho ya thooo :)

Nah, dari hasil baca-baca boenda, yang termasuk vaksin hidup contohnya seperti; polio oral, BCG, MMR, campak dan cacar air. Sedangkan yang termasuk vaksin mati, contohnya kaya hepatitis A, hepatitis B, DPT, HiB dan thypoid. Kedua jenis vaksin ini bisa dilakukan secara simultan alias bersamaan, kalaupun mau diberi jarak, untuk vaksin hidup, jarak dgn vaksin hidup lainnya idealnya 4 minggu. Kalau jarak antara vaksin hidup dan vaksin mati boleh kapan aja terserah, begitu juga jarak antar vaksin mati juga boleh kapan aja.

Lho kok simultan, boenda? kan kasian babynya disuntik bersamaan gitu..

Dulu kaya gitu tuh pola pikir boenda, kasian Aira ah kalo disuntik berkali-kali dalam satu waktu. Tapi yah, ternyata setelah boenda baca dan pikir2 imunisasi simultan itu banyak untungnya lho.(1) bisa mengurangi trauma anak dengan berkurangnya frekuensi ke dokter, (2) mengurangi angka kunjungan ke dokter yg berarti menghemat tenaga, waktu dan biaya), (3) meminimalisir potensi anak terpapar anak lain yang sedang sakit. Dan dari penelitian, apabila dilakukan dengan cara mengalihkan perhatian anak sambil dipeluk atau dirangkul, imunisasi simultan ga nyebabin trauma kejiwaan pada anak. Dan imunisasi simultan ternyata ga meningkatkan resiko efek samping dan mengurangi efektivitas vaksinnya seperti anggapan orang pada umumnya. jadi kayanya adek-adeknya Aira nanti bakalan di imunisasi secara simultan deh yah…


kapan saat imunisasi ditunda?

(1) bila sedang sakit berat dam akut, demam tinggi

(2) ada reaksi alergi yang berat

(3) bila anak menderita gangguan sistem imunitas yang berat misalnya sedang terapi steroid dengan jangka lama, dan anak mengidap HIV) nah, untuk itu ga boleh diberi vaksin hidup dulu

(4) alergi terhadap telur, untuk ini hindari imunisasi influenza

selain 4 alasan di atas, ga ada alasan lain yang membuat suatu imunisasi itu perlu ditunda. Hehehee pengakuan: dulu boenda pernah nunda imunisasi Aira dengan alasan Aira pilek selain alasan lupa =P insya Allah untuk anak selanjutnya, boenda mau lebih disiplin soal imunisasi ini

Terus boenda juga baca-baca dan cari tau tentang halal-haramnya imunisasi. Karena ini ga main-main lho, semakin merebak gerakan anti vaksin, alasannya macem-macem, salah satu karena status halal-haramnya imunisasi. Konon karena gencarnya gerakan anti vaksin ini, terjadi wabah difteri di Jawa Timur hingga ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa karena udah ratusan anak yang jadi korban, seperti diberitain di

http://regional.kompas.com/read/2011/10/09/13390318/328.Anak.Tewas.Jatim.KLB.Difteri

atau di
http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/PUBLICATIONS/MI/MI/2011/10/10/Article\
Htmls/KLB-Difteri-Jatim-Lakukan-Vaksinasi-Massal-10102011010023.shtml?Mode=1

sedih yah, padahal dulu Indonesia pernah bebas difteri lho =’(

untuk masalah halal-haram imunisasi, boenda copas Majalah Al Furqan, Edisi 05 Th. ke – 8 1429 H/2008 M, oleh : Al Ustadz Abu
Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi.

Penjelasan tersebut dibuat untuk membahas mengenai status halal-haramnya vaksin polio sih tapi boenda rasa, basicnya bisa diterapkan untuk penjelasan status halal-haram vaksin lainnya

Hukum Asal Imunisasi
Imunisasi hukumnya boleh dan tidak terlarang, karena termasuk penjagaan diri
dari penyakit sebelum terjadi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
: ” Barangsiapa yang memakan tujuh butir kurma ajwah, maka dia akan terhindar
sehari itu dari racun dan sihir” (HR. Bukhari : 5768, Muslim : 4702).
Hadits ini menunjukkan secara jelas tentang disyari’atkannya mengambil sebab
untuk membentengi diri dari penyakit sebelum terjadi.[5] Demikian juga kalau
dikhawatirkan terjadi wabah yang menimpa maka hukumnya boleh sebagaimana halnya
boleh berobat tatkala terkena penyakit.[6]
B.Jembatan Menuju Jawaban
Untuk sampai kepada status hukum imunisasi model di atas, kami memandang penting
untuk memberikan jembatan terlebih dahulu dengan memahami beberapa masalah dan
kaidah berikut, setelah itu kita akan mengambil suatu kesimpulan hukum.[8]

1.Masalah Istihalah
Maksud Istihalah di sini adalah berubahnya suatu benda yang najis atau haram
menjadi benda lain yang berbeda nama dan sifatnya. Seperti khomr berubah menjadi
cuka, bai menjadi garam, minyak menjadi sabun, dan sebagainya.[9]
Apakah benda najis yang telah berubah nama dan sifatnya tadi bisa menjadi suci?
Masalah ini diperselisihkan ulama, hanya saya pendapat yang kuat menurut kami
bahwa perubahan tersebut bisa menjadikannya suci, dengan dalil-dalil berikut :
a.Ijma’ (kesepakatan) ahli ilmu bahwa khomr apabila berubah menjadi cuka maka
menjadi suci.
b.Pendapat mayoritas ulama bahwa kulit bangkai bisa suci dengan disamak,
berdasarkan sabda Nabi ” Kulit bangkai jika disamak maka ia menjadi suci.” (
Lihat Shohihul-Jami’ : 2711)
c.Benda-benda baru tersebut – setelah perubahan – hukum asalnya adalah suci dan
halal, tidak ada dalil yang menajiskan dan mengharamkannya.
Pendapat ini merupakan madzhab Hanafiyyah dan Zhohiriyyah[10], salah satu
pendapat dalah madzhab Malik dan Ahmad[11]. Pendapat ini dikuatkan oleh
Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah[12], Ibnul Qoyyim, asy-Syaukani[13], dan
lain-lain.[14]
Alangkah bagusnya ucapan Imam Ibnul-Qoyyim : “Sesungguhnya benda suci apabila
berubah menjadi najis maka hukumnya najis, seperti air dan makanan apabila telah
berubah menjadi air seni dan kotoran. Kalau benda suci bisa berubah najis,
lantas bagaimana mungkin benda najis tidak bisa berubah menjadi suci? Allah
telah mengeluarkan benda suci dari kotoran dan benda kotor dari suci. Benda asal
bukanlah patokan. Akan tetapi, yang menjadi patokan adalah sifat benda tersebut
sekarang. Mustahil benda tetap dihukumi najis padahal nama dan sifatnya telah
tidak ada, padahal hukum itu mengikuti nama dan sifatnya.”[15]

2.Masalah Istihlak
Maksud Istihlak di sini adalah bercampurnya benda haram atau najis dengan benda
lainnya yang suci dan hal yang lebih banyak sehingga menghilangkan sifat najis
dan keharamannya, baik rasa, warna, dan baunya.
Apabila benda najis yang terkalahkan oleh benda suci tersebut bisa menjadi suci?
Pendapat yang benar adalah bisa menjadi suci, berdasarkan dalil berikut : “Air
itu suci, tidak ada yang menajiskannya sesuatu pun.” (Shohih. Lihat
Irwa’ul-Gholil:14)
“Apabila air telah mencapai dua qullah maka tidak najis.” (Shohih. Lihat
Irwa’ul-Gholil:23).
Dua hadits di atas menunjukkan bahwa benda yang najis atau haram apabila
bercampur dengan air suci yang banyak, sehingga najis tersebut lebur tak
menyisakn warna atau baunya maka dia menjadi suci. Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah
berkata: “Barang siapa yang memperhatikan dalil-dalil yang disepakati dan
memahami rahasia hukum syari’at, niscaya akan jelas baginya bahwa pendapat ini
paling benar, sebab najisnya air dan cairan tanpa bisa berubah, sangat jauh dari
logika.”[16]
Oleh karenanya, seandainnya ada seseorang yang meminum khomr yang bercampur
dengan air yang banyak sehingga sifat khomr-nya hilang maka dia tidak dihukumi
minum khomr. Demikian juga, bila ada seorang bayi diberi minum ASI (air susu
ibu) yang telah bercampur dengan air yang banyak sehingga sifat susunya hilang
maka dia tidak dihukumi sebagai anak persusuannya.”[17]

3.Dhorurat dalam Obat
Dhorurat (darurat) adalah suatu keadaan terdesak untuk menerjang keharaman,
yaitu ketika seorang memilki keyakinan bahwa apabila dirinya tidak menerjang
larangan tersebut niscaya akan binasa atau mendapatkan bahaya besar pada
badanya, hartanya atau kehormatannya. Dalam suatu kaidah fiqhiyyah dikatakan:
“Darurat itu membolehkan suatu yang dilarang”
Namun kaidah ini harus memenuhi dua persyaratan: tidak ada pengganti lainya yang
boleh (mubah/halal) dan mencukupkan sekadar untuk kebutuhan saja.
Oleh karena itu, al-Izzu bin Abdus Salam mengatakan : “Seandainya seorang
terdesak untuk makan barang najis maka dia harus memakannya, sebab kerusakan
jiwa dan anggota badan lebih besar daripada kerusakan makan barang najis.”[20]

4.Kemudahan Saat Kesempitan
Sesungguhnya syari’at islam ini dibangun di atas kemudahan. Banyak sekali
dalil-dalil yang mendasari hal ini, bahkan Imam asy-Syathibi mengatakan:
“Dalil-dalil tentang kemudahan bagi umat ini telah mencapai derajat yang
pasti”.[20]
Semua syari’at itu mudah. Namun, apabila ada kesulitan maka akan ada tambahan
kemudahan lagi. Alangkah bagusnya ucapan Imam asy-Syafi’i tatkala berkata :
“Kaidah syari’at itu dibangun (di atas dasar) bahwa segala sesuatu apabila
sempit maka menjadi luas.”[21]

5.Hukum Berobat dengan sesuatu yang Haram
Masalah ini terbagi menjadi dua bagian :
a.Berobat dengan khomr adalah haram sebagaimana pendapat mayoritas ulama,
berdasarkan dalil : “Sesungguhnya khomr itu bukanlah obat melainkan penyakit.”
(HR. Muslim:1984) Hadist ini merupakan dalil yang jelas tentang haramnya khomr
dijadikan sebagai obat.[22]
b.Berobat dengan benda haram selain khomr. Masalah ini diperselisihkan ulama
menjadi dua pendapat :
Pertama : Boleh dalam kondisi darurat. Ini pendapat Hanafiyyah, Syafi’iyyah, dan
Ibnu Hazm.[23] Di antara dalil mereka adalah keumuman firman Allah :…
Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu,
kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya…. (QS. Al- An’am [6]:119)
Demikian juga Nabi membolehkan sutera bagi orang yang terkena penyakit kulit,
Nabi membolehkan emas bagi sahabat arfajah untuk menutupi aibnya, dan bolehnya
orang yang sedang ihrom untuk mencukur rambutnya apabila ada penyakit di
rambutnya.
Kedua: Tidak boleh secara mutlak. Ini adalah madzab Malikiyyah dan
Hanabillah.[24] Di antara dalil mereka adalah sabda Nabi :”Sesungguhnya Allah
menciptakan penyakit dan obatnya, maka berobatlah dan jangan berobat dengan
benda haram” (ash-Shohihah:4/174)
Alasan lainnya karena berobat hukumnya tidak wajib menurut jumhur ulama, dan
karena sembuh dengan berobat bukanlah perkara yang yakin.
Pendapat yang kuat: Pada asalnya tidak boleh berobat dengan benda-benda haram
kecuali dalam kondisi darurat, yaitu apabila penyakit dan obatnya memenuhi
kriteria sebagai berikut :
1)Penyakit tersebut penyakit yang harus diobati  2)Benar-benar yakin bahwa obat
ini sangat bermanfaat pada penyakit tersebut.  3)Tidak ada pengganti lainnya yang
mubah.[25]

6.Fatwa-fatwa
Dalam kasus imunisasi jenis ini, kami mendapatkan dua fatwa yang kami pandang
perlu kami nukil di sini :
Dalam ketetapan mereka tentang masalah ini dikatakan: “Setelah Majelis
mempelajari masalah ini secara teliti dan menimbang tujuan-tujuan syari’at,
kaidah-kaidah fiqih serta ucapan para ahli fiqih, maka Majelis menetapkan :
1) Penggunaan vaksin ini telah diakui manfaatnya oleh kedokteran yanitu
melindungi anak-anak dari cacat fisik (kepincangan) dengan izin Allah.
Sebagaimana belum ditemukan adanya pengganti lainnya hingga sekarang. Oleh
karena itu, menggunakannya sebagai obat dan imunisasi hukumnya boleh, karena
bila tidak maka akan terjadi bahaya yang cukup besar. Sesungguhnya pinti fiqih
luas memberikan toleransi dari perkara najis- kalau kita katakan bahwa cairan
(vaksin) itu najis- apabila terbukti bahwa cairan najis ini telah lebur dengan
memperbanyak benda-benda lainnya. Ditambah lagi bahwa keadaan ini masuk dalam
kategori darurat atau hajat yang sederajat dengan darurat, sedangkan termasuk
perkara yang dimaklumi bersama bahwa tujuan syari’at yang paling penting adalah
menumbuhkan maslahat dan membedung mafsadat.
2) Majelis mewasiatkan kepada para pemimpin kaum muslimin dan pemimpin markaz
agar mereka tidak bersikap keras dalam masalah ijtihadiyyah (berada dalam ruang
lingkup ijtihad) seperti ini yang sangat membawa maslahat yang besar bagi
anak-anak muslim selagi tidak bertentangan dengan dalil-dalil yang jelas.[26]

b.Fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia)
Majelis Ulama Indonesia dalam rapat pada 1 Sya’ban 1423H, setelah mendiskusikan
masalah ini mereka menetapkan :
1). Pada dasarnya, penggunaan obat-obatan, termasuk vaksin, yang berasal dari –
atau mengandung- benda najis ataupun benda terkena najis adalah haram. 2).
Pemberian vaksin IPV kepada anak-anak yang menderita immunocompromise, pada saat
ini, dibolehkan, sepanjang belum ada IPV jenis lain yang suci dan halal.[27]

C.Kesimpulan dan Penutup
Setelah keterangan singkat di atas, kami yakin pembaca sudah bisa menebak
kesimpulan kami tentang hukum imunisasi IPV ini, yaitu kami memandang bolehnya
imunisasi jenis ini dengan alasan-alasan sebagai berikut :
1.Imunisasi ini sangat dibutuhkan sekali sebagaimana penelitian ilmu kedokteran.
2.Bahan haram yang ada telah lebur dengan bahan-bahan lainnya.
3.Belum ditemukan pengganti lainnya yang mubah.
4.Hal ini termasuk dalam kondisi darurat.
5.Sesuai dengan kemudahan syari’at di kala ada kesulitan.
Demikianlah hasil analisis kami tentang masalah ini, maka janganlah kita
meresahkan masyarakat dengan kebingungan kita tentang masalah ini. Namun seperti
yang kami isyarakatkan di muka bahwa pembahasan ini belumlah titik, masih
terbuka bagi semuanya untuk mencurahkan pengetahuan dan penelitian baik sari
segi ilmu medis maupun ilmu syar’i agar bisa sampai kepada hukum yang sangat
jelas. Kita memohon kepada Allah agar menambahkan bagi kita ilmu yang
bermanfaat. Amin.

 

Boenda juga inget sama salah satu email yang pernah ayah tunjukkin ke boenda. Email tersebut dikirimkan teman se-almamaternya yang kebetulan seorang dokter yg sedang mengambil spesialis neurologi. Dalam email tersebut, beliau tidak hanya membahas tentang imunisasi tapi juga membahas tentang kecenderungan untuk tidak berobat ke dokter dan lebih mengandalkan pengobatan alternative atau pengobatan herbal. Ada beberapa kalimatnya yang boenda garis bawahi:

Di antara berbagai metode/zat pengobatan di era nabi, memandang time frame dan location frame, saya yakin habbatus sauda’ dan bekam memang yang terbaik. Nah jika anda sepakat dg saya bahwa hadist berkuda dapat diganti naik motor/mobil zaman sekarang, maka intisari dari forma habbatus sauda’ adalah obat yang paling poten (pada zaman nabi), dan forma dari bekam adalah tindakan bedah/intervensi yang paling poten (pada zaman nabi). Kala zaman berganti, jangan terjebak pada formanya lagi. Menurut saya, yg saklek dlm Islam dlm bentuk forma yg ga bisa diubah lagi adlh menyangkut ibadah mahdloh.

pada email lain, masih membahas tentang kecenderungan menolak imunisasi, dan pengobatan medis dengan menggantinya dengan pengobatan herbal;

Jika tren ini dibiarkan, kita mengulang jahiliyahnya para pastor yang menghukum mati Galileo….

 

wallahu’alam bisshowwab

Boenda tetap pada pendirian boenda untuk memberikan imunisasi kepada anak-anak boenda kelak, kewajiban boenda adalah melindungi anak-anak dari bahaya apapun, dan imunisasi adalah salah satu bentuk ikhtiar boenda

-siBoenda-

Imunisasi, perlu atau tidak??

Beberapa hari yg lalu, ada pemberitaan tv swasta nasional yg cukup bikin heboh. Dikatakan, imunisasi itu mengandung merkuri dan dapat mengakibatkan kematian *doeng!* pemberitaan ini tentu menyulut reaksi beberapa pihak, termasuk boenda. Kenapa? karena berita yg diturunkan bukannya memberikan edukasi yg berimbang justru terkesan menakut-nakuti masyarakat. Ga jelas diberitakan, mercuri jenis apa dan ada pada imunisasi apa? ga jelas juga akibat kematian yg ditimbulkan itu dari apa dan seberapa besar prosentase kematian yg timbul di masyarakat.  Parahnya lagi, pihak yg diwawancarai ga valid. Karena penderita lumpuh layu tersebut  nyatanya secara hukum sudah dipastikan sakit yg diderita bukan akibat imunisasi. Pemberitaan yg juga ga proporsional. Cuma menonjolkan “korban imunisasi” Korban akibat tidak diimunisasi ga ada pada pemberitaan ini. Bukankah sebaik media menurunkan pemberitaan yg adil, alangkah baiknya bila mereka memberikan pemahaman yg menyeluruh tentang imunisasi, hingga pada akhirnya masyarakat sendiri, dalam hal ini khususnya para orangtua, yg menentukan akan memberikan imunisasi atau tidak ke anaknya.

Nah, berbicara mengenai imunisasi ini, boenda termasuk pihak yg memberikan imunisasi ke Aira. Walau boenda akui, jadwal imunisasi Aira berantakan, ga tepat waktunya. Setidaknya better late daripada ga sama sekali. Beberapa teman yg ga sependapat mengajak boenda untuk back 2 sunnah, bahwa dgn kurma dan madu dapat meningkatkan imunitas si anak, hingga ga perlu lagi diberikan imunisasi. Ada juga yg bilang imunisasi itu lebih besar mudharatnya ketimbang manfaatnya. Ada pula yg mengingatkan bahaya imunisasi, status haramnya isi kandungan imunisasi hingga konspirasi zionis yahudi yg ingin memberikan racun kepada anak-anak muslim melalui imunisasi. Well, i’ve read all of these infos dari yg pro maupun yg kontra imunisasi waktu masih hamil dan keputusannya? tetep memberikan Aira imunisasi.

Alasannya? simple! i just wanna do all my best to protect Aira. Selagi boenda mampu, boenda upayakan apapun untuk menjaga Aira dari dalam tubuhnya maupun dari luar. Kita ga tau kan sampai kapan usia qta menjaga titipan Tuhan ini. Boenda mati-matian berusaha bisa kasih Aira ASI, rela merepotkan diri memasak masakan rumah untuk Aira, skalipun dalam travelling *dgn konsekuensi bawaan bahan dan perlengkapan masaknya sgambreng*. Back 2 sunnah? i did. Rutin memberikan Aira sari kurma dan madu. And last, giving her vaccine.

Adalah benar, bahwa imunisasi TIDAK memberikan JAMINAN anak akan terhindar sama sekali dari penyakit yg diimunisasikan. Akan tetapi, in my humble opinion, tetap lebih bijak memberikan anak imunisasi daripada gambling dgn kondisi penyakit aneh2 merajalela seperti sekarang ini. Setidaknya, kalaupun kejadian *na’udzubillah min dzalik* ga akan  parah kasusnya. Dan ini terbukti lho pada boenda sendiri. Waktu di rumah onti nya Aira lg kena cacar, boenda yg saat itu mau UAN SMA kelas 3, langsung buru2 di imunisasi varicella biar ga kena. Hasilnya? 1 minggu setelah UAN, tetep aja boenda kena, tapi ga separah onti nya  Aira. Sembuhnya cepet, ga menyebar luas dan ga membekas.

Well, semua memang kembali kepadaNya, tugas boenda sebagai seorang ibu adalah melakukan segala usaha dan memberikan yg terbaik untuk menjaga dan merawat titipanNya. If something happened *na’udzubillah min dzalik* *ketok2 meja* ya memang sudah TAKDIR, at least i did all my best.

So, what do you think?  perlu tidak anaknya diimunisasi??

semua kembali ke anda, orang tuanya…

sssstttt,…selagi ngomongin imunisasi, mau contek jadwal imunisasi Nico mama resti @resti0510  aaaahhh….hihihihih ini emak, boenda ks ancungan jempol dah buat urusan anak! v(n__n)v

ini dia jdwlnya imunisasi Nico, hehe buat “pakem” imunisasinya Aira dan ade2nya kelak deh… *dlm rangka terus blajar jd ibu yg konsisten*:

Pas lahir – Hep B I dan Heb B Imunoglobulin
11 hari – Polio 0
35 hari – Hep B II ; BCG
2 bulan – DPT I ; HIB I ; Polio I
4 bulan – DPT II ; HIB II ; Polio II
6 bulan – DPT III ; HIB III ; Polio III ; Hep B III
9 bulan – Campak
12 bulan – Varicella I
15 bulan – Varicella II dan MMR
18 bulan – DPT IV ; HIB IV ; Polio IV dan Hep A I
24 bulan – Typhoid ; Hep A II
5 tahun – DPT V ; Typhoid

note: Aira ga diimunisasi varicella, krn di umur 7 bulan dia udah kena cacar, jd ga perlu imunisasi varicella lagi *kata dokter*

-siBoenda-

Post Navigation

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 771 other followers