-siBoenda-

my life stories

Archive for the tag “menyapih”

weaning with….??

Sepertinya, berakhir sudah masa-masa indah menyusui karena sudah 9 hari belakangan ini Aira ga nenen sama sekali. Ritual nenen sebelum tidur yang biasa dilakukan udah ga ada lagi. Sekarang sebelum tidurnya, Aira akan minta susu UHTnya melalui botol zippycupnya, setelah menghabiskan susu, dia akan memeluk dan minta diusap-usap punggungya. Romantis sih,… tapi tetep terasa ada yang hilang

semua berawal dari kondisi kehamilan boenda yang terus mengalami kontraksi saat menyusui Aira. Dokter kandungan sejak control kehamilan pertama membolehkan boenda untuk tetap menyusui Aira, dengan catatan: kalo terjadi kontraksi dengan durasi yang cukup sering, mau tidak mau boenda harus segera menyapih Aira. Mengingat boenda ada riwayat keguguran, bila sering  terjadi kontraksi bisa memicu kelahiran prematur atau lebih buruk lagi, keguguran.

Berbicara tentang menyapih, boenda ingin sekali menerapkan konsep weaning with love sampai-sampai boenda sempat ga mau hamil dulu, karena takut harus cepat-cepat menyapih Aira seperti yang pernah boenda tuliskan disini, metode weaning with love adalah metode menyapih dengan membiarkan Aira yang memutuskan sendiri kapan saat ia ga lagi nenen. Metode ini secara perlahan-lahan boenda terapkan sejak Aira berusia 20 bulan, frekuensi nenen mulai boenda kurangi, membuat Aira sibuk di waktu-waktu biasa ia nenen, menerapkan metode hypno di saat Aira dalam kondisi setengah sadar menjelang tidur, berulang kali mengatakan ke Aira bahwa ia sudah besar, memberikan pemahaman bahwa anak yang sudah besar ga lagi nenen, membawa Aira menemui teman-temaan yang punya bayi supaya Aira punya gambaran bahwa yang nenen adalah dede bayi. hasilnya frekuensinya berkurang tapi sejak hamil dan semakin besar kandungan, semakin sering terjadi perut kencang tiap kali Aira nenen. jadi boenda dihadapkan pada realita: metode weaning with love ga lagi bisa diterapkan, Aira harus segera disapih.

Sedih ga sih, di saat kita memberikan materi tentang ASI dan menyusui, dan memberikan pemahaman kepada orang-orang bahwa metode menyapih yang terbaik adalah dengan membiarkan si anak memutuskan sendiri, bahwa metode memberikan sesuatu pada puting untuk membuat si anak ga lagi menyusu bisa membuat trauma dan mengaburkan memori indahnya tentang masa-masa menyusui, di saat itulah apa-apa yang keluar dari mulut kita, ga bisa sukses kita terapkan secara pribadi. Rasanya seperti ditampar! tapi bagaimana lagi, mau ga mau boenda harus keluar dari idealisme yang boenda pegang. Mau ga mau, boenda harus ikhlas untuk segera menyapih Aira dengan metode yang sama sekali ga pernah boenda ingin lakukan.

Memangnya metode apa sih yang boenda lakukan? dengan malu boenda akui, boenda mengoleskan air jeruk nipis ke puting. Hanya 1x Aira mengincip puting rasa jeruk nipis tapi 1x itu membuat dia ga lagi mau nenen hingga detik ini. Sediiiihh banget apalagi setelah mencicip air jeruk nipis di puting itu, Aira menangis sekitar 10 menit. bukan tangis kemarahan, tapi tangisan sedih. Boenda tau dan merasakan betul kesedihan Aira saat itu. Boenda cuma bisa meluk erat-erat sambil bisikkan permohonan maaf hingga Aira tertidur dalam pelukan boenda.

 

Tepat 27 bulan boenda menyusui Aira, Alhamdulillah boenda bisa memberikan hak ASI Aira hingga lebih dari 24 bulan. ga terhitung kebahagiaan dan kebanggaan yang boenda rasakan dari momen menyusui. Tiap melihat seorang ibu menyusui anaknya, tiap kali itu juga terbayang gambaran Aira yang meminta nenen, lalu tiduran di pangkuan, melihat wajah boenda dan tersenyum. Masih segar dalam ingatan segala kendala yang boenda alami untuk bisa sukses menyusui Aira dari puting lecet, manajemen laktasi yang ga bagus yang membuat pasokan ASI terasa menurun. Semua kendala itu ga ada artinya bila ingat efek dari menyusui; keterikatan emosional yang terjalin, kesehatan Aira yang prima dan masih banyak lagi manfaat yang kami, ayah dan boenda, rasakan. Benar dikatakan, sebagai seorang ibu adalah kebanggaan tersendiri bila sukses menyusui anaknya, gimana ga, Air Susu Ibu adalah investasi berharga untuk anak yang secara khusus Tuhan berikan hanya pada diri wanita. Semoga boenda tetap dapat sukses menyusui adik-adiknya Aira kelak =’)

 

so far, Aira hanya 1x menangis meminta nenen saat pertama kali merasa air jeruk nipis itu, dan ga pernah terlihat “sakau menderita”, akhir-akhir ini udah bisa bilang: “ai sudah besar ga nenen bunda” dan seperti umumnya anak yang sudah disapih, nafsu makan Aira lebih kuat asupan susu UHTnya juga lebih banyak.

Semoga kelak jika Aira baca tulisan ini, Aira dapat memaklumi tindakan boenda,

dan tolong maafkan boenda, nak.

I love you so much, my dear…

 

-siBoenda-

siap ga siap ga siap, Ga!?

Pagi-pagi setelah semua kerjaan rumah beres bawaannya jadi pengen curcoooll deh

berawal dari semakin banyaknya temen-temen yg hamil anak kedua nih, ayah pun mulai gencar ngebahas soal program anak lagi,

hiksssss,…. *lha?!

boenda sukaaaa bgt sama anak kecil, jatuh hati pada semua yang berbau babies to toddies, tapi hei! rasa suka ternyata ga cukup bisa bikin siBoenda siap untuk punya banyak anak (dalam waktu yang berdekatan)

bukan sekedar bicara materi, dalam hal ini lebih ke arah persiapan mental. Sampe diketik ini postingan, rasanya masih jauuuuhhh dari kata SIAP untuk punya anak kedua

terbayang keguguran hamil pertama,

terbayang masa-masa bedrest total hampir 2 bulan waktu hamil Aira, apa kabar Aira kl ntar hamil berikutnya kudu pake acara bedrest segala?

dan terbayang pula harus menyapih Aira lebih dini. Karena, sepertinya sangat kecil kemungkinan buat boenda tandem nursing, secara ya nyusui itu seringnya nimbulin kontraksi. Nah buat emak-emak yg punya riwayat keguguran atau lahir prematur, secara teori,  riskan untuk bisa sukses tetap menyusui selagi hamil.

Buat sebagian orang, mungkin akan ngebatin “so what kl harus nyapih lebih awal?toh Aira udah makan nasi ini, minum susu UHT  juga lancar”

tapi buat boenda, beraaaatttt bgt! Aira punya hak atas ASI at least sampe usia 2 tahun, boenda pun memang berniat menyapih Aira dengan cinta, biar Aira yg memutuskan sendiri tetap/berhenti ninen, dan tentu ini butuh keikhlasan kdua belah pihak, baik boenda maupun Aira, bahkan mungkin tiga belah pihak include ayah. Karena memang, persoalan menyapih ini sama seperti pemberian ASI, akan sukses dengan kerjasama ayah, boenda, dan Aira.

Boenda ga pernah ngebayangin akan menyapih Aira dengan cara-cara *sorry to say* brutal kaya pemberian jamu-jamuan, obat merah, jeruk nipis, atau apapun lah di puting yg bikin anak jadi *terpaksa* berhenti menyusui. Lha wong, boenda *dan ayah* kok yg bikin Aira addicted ASI, boenda yg bikin Aira ga makan apa-apa selain ASI di 6 bulan pertama kehidupannya. Boenda *dan sekali lagi ayah* yg memutuskan ga nambah susu lain selain ASI sampe Aira berusia 12 bulan. Kalo udah addict kaya sekarang, apa iya boenda tega sampai hati bikin Aira “sakau” ga dapet ASI? hell NOOOO……….

Pemberian ASI bagi boenda, sama seperti masa-masa pacaran. Kalo selama masa pacaran baik-baik saja, selalu mesra, apa ga sakit hati tuh kalo tiba-tiba diputuskan secara sepihak? itulah yg bikin boenda ga siap harus bikin Aira “sakit hati”

Entah kenapa boenda seringkali merasa kalo ga siap melakukan sesuatu, efeknya ga baik. Makanya boenda merasa, karakter Aira yg menyenangkan selama ini efek dari kesiapan boenda sebelum hamil, kesiapan tersebut membuat boenda sangaaaaattt menikmati masa-masa kehamilan, including masa-masa bedrest itu lho! seinget boenda, jarang banget marah-marah apalagi sedih sampe nangis bombay waktu hamil Aira.

Terlalu melankolis memang alesan ketidaksiapan punya anak keduanya siBoenda, tapi memang begitulah

well let’s see bagaimana kedepannya nanti, semoga kesiapan itu hasil dari keikhlasan =)

-siBoenda-

Post Navigation

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 702 other followers