engagement t0 the wedding

Perjalanan hubungan kami cukup unik,

Mungkin ini yg sering orang bilang “kalo jodoh ga akan lari gunung dikejar”

meskipun berpisah jarak, ruang dan waktu *halah bahasanya!* di akhir semester 6 boenda kuliah, si ayah berhasil mengontak salah seorang teman boenda untuk “menghubungkan” boenda dengan dirinya, “proses” itupun berlanjut hingga tahap bertemu orang tua boenda

cukup alot tahap pertemuan dengan orang tua ini, karena orang tuanya boenda ga ngizinin boenda menikah sebelum lulus kuliah,  segala argumentasi keluar, hingga menghasilkan dibolehkannya boenda menikah sebelum selesai kuliah asaaallll boenda harus bisa lulus tepat waktu dengan predikat cum laude! well well well baiklaaaahh…….

setelah proses yang cukup alot itu, si ayah pun kemudian melamar boenda (sayangnya, boenda lupa tanggal melamarnyah! hehe) karena sebelumnya ayah sudah datang sendiri menghadap papa, ini saat dimana ayah datang dengan bala tentara yg cukup banyak (dan disambut dengan bala tentara boenda yg juga ga kalah banyaknya)

dibahas deh soal tetek bengek masalah pernikahan…bla bla blaaa keluar tanggal hari H akad nikah dan resepsinya, jaraknya kurang lebih 6 bulan dari hari engagement tersebut

benar orang bilang, kalau udah mau nikah adaaaaa ajah kendalanya, apalagi kami berdua sama-sama sibuk, si ayah lagi under pressure kerjaannya, si boenda lagi sibuk dgn urusan skripsi, magang, KKN dll

Slama 6bln persiapan itu, boenda cm 1 kali pulang ke jkt, itupun hanya untuk fitting baju dan sepatu, cukup 1x fitting (makanya boenda usaha bgt biar badan ga melar) slebihnya segala urusan di handle sm mama, ga ada deh tuh yg namanya foto pre-wed, prawatan tubuh dkk dilakuin di srby (itupun sesempatnya ajah!)

Boenda br pulang lg ke jkt itu H-5 dr pelaksanaan,,H-3nya baru ke KUA sm ayah bwt tanda tangan berkas2 dan dpt petuah ini itu dr org KUA nya

H-2 digelar acara “malam bainai”, acara adat khas minangkabau, boenda dikenakan inai (semacam pacar kuku) di jemari tangan oleh ninik mamak (nenek, kakak2 mama, kakak2 papa, sm cln mertua)
setiap jari yg dikenakan inai punya arti dan doa sendiri-sendiri lho! Such as, saat dikenakan di ibu jari kanan, doanya “semoga menjadi seorang ibu yg baik untuk anak2”

Saat pemakaian inai ini, suasana sengaja dibuat syahdu, sukseslah membuat air mata boenda jatuh dengan derasnya apalagi waktu dipakaikan inai sm amak (ibunya mama) dan mama

Tp at all Full of fun sih, meski harus memakai sunting di kepala sberat 2-3 kg! =)

H-1 boenda serasa menjadi seorang putri,,di rumah, ga boleh kemana-mana, ga boleh kerja berat2, sharian diisi dgn body treatment dari rambut mpe ujung kaki…

Malam harinya, bukannya boenda istirahat tidur cepet, eeeehh malah begadang mpe jam setengah 3an ngobrol ngalor ngidur sm spupu yg dateng dr amrik,
walhasil begitu dibangunin jam setengah 5, mata masih berat luaaarr biasa!

Udah dibawa mandi pun mata masih berat, perjalanan dr rumah mpe masjid sunda kelapa pun kynya dlm kondisi mata terpejam..baru merasa (agak) segar saat penata rias merias wajah boenda, thanks God, ia mahir menutupi kantung mata akibat begadang smalaman itu! Kalau ga, kbayang ajah pengantin panda…

Akad pun berlangsung dr jam set 8- jam 9, si ayah “lulus” mengucap 1x ijab dgn tegas, lancar, dan jelas,,

dan untuk pertama kalinya boenda mencium tangan ayah =)

lagi2 boenda menangis (padahal udah diwanti2 untuk menahan tangis) saat itu macem2 deh yg dirasa, bahagia dan sedih bercampur jd satu

Selesai prosesi akad, ayah dan boenda “kabur” sebentar ke masjid untuk melakukan salat sunah 2 rakaat..subhanallah nikmaaaat bgt pertama kalinya salat berjamaah dengan ayah, selesai salat untuk pertama kalinya ayah mencium kening boenda, dan membaca doa agar pernikahan ini langgeng, dikaruniai keturunan yg saleh dan salehah dipisahkan sementara oleh kematian untuk kemudian berkumpul kembali di akhirat kelak….

Karena menyadari “proses” nya belum selesai, kami kemudian buru-buru ke ruang rias, daaaann bertemu lagi lah boenda dengan yg namanya sunting! Ga tanggung2 beratnya konon 5-6kg dgn sgala tetek bengeknya,,si papa memang sengaja meminta sunting yg asli, sembari bercanda papa bilang: “biar terasa jd gadis minangnya dan kapok untuk nikah lagi” *sigh*

Resepsi kemudian berjalan, ada sedikit kejutan yg membuat boenda amaaattt bahagia, si papa didaulat secara mendadak untuk menarikan tari payung!
Di usia mudanya, papa seorang penari istana,,rasa bahagianya ga bs dijelaskan dgn kata-kata deh, bangga bgt ngeliat papa menari lagi dgn gerak yg luwes tp ga terkesan kemayu layaknya seorang banci! (Mgkn Krn di sisi lain, papa jg seorang karateka kali yaaaa)

Kebahagiaan berikutnya muncul karena buanyaaaakk bgt orang yg dateng, acara tsb sudah seperti: arisan keluarga yg amat besar plus reuni anak SMA..:hehehehe ;P

In the end of the wedding, mgkn krn capek yg udah ga tertahankan lagi, boenda jatuh terkulai lemas dan hampir pingsan tepat setelah undangan yg terakhir bersalaman dgn boenda, setelah sunting (yg amat berat itu) dilepas, dan meminum air barulah boenda “kembali” ke alam nyata

What a great moment!!

Kejutan lain pun datang, saat sudah di rumah, sore hari atasan ayah menelepon, meminta ayah ikut rapat esok harinya (sempet sebel krn ayah kan udah minta cuti 1 minggu!)
Dan menawarkan menginap di hotel Grand Kemang selama 2 malam,seluruh pengeluaran akan ditanggung kantor!

Yeeeaaaayyyy!!! Ilang deh rasa sebelnya hahahahahahha honeymoon dibayarin kantor booo…..

bener-bener perjalanan waktu yg funtastic!
Alhamdulillah

-020308-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s