Antara Jajan, Selingkuh dan Poligami

which one will u choose? suami jajan di luar, selingkuh ampe “mliara” perempuan tanpa pernikahan, atau menikah lagi?

atau pertanyaannya di ubah:

Lebih kasian mana bila kamu melihat perempuan yg suaminya suka jajan, “mliara” perempuan, atau melihat perempuan yg suaminya menikah lagi??

kalimat-kalimat di atas, muncul dalam diskusi ayah dan boenda tadi malam. Munculnya diskusi ini karena saat salat maghrib di sebuah masjid, boenda melihat seorang wanita mungkin kisaran usia 35-40 thn yg menangis sesunggukan bercerita ke wanita lainnya (entah temannya atau saudaranya) ,lamat-lamat terdengar, bahwa suaminya berselingkuh sampai nikah siri, dan sekarang meninggalkan dirinya dan anak-anak tanpa ada sepeserpun uang maupun harta benda. Semua diberikan ke istri sirinya tersebut atas permintaan si istri siri. Miris…..

dalam hati boenda membatin “terkutuklah suami tersebut!” tidakkah suaminya tahu, Allah kelak akan memperlakukannya seburuk-buruknya perlakuan ia terhadap istrinya?

Adalagi kisah yg boenda pernah denger. Seorang suami sering jajan di luar, hobi mendatangi tempat karaoke maupun pijat plus plus.. istrinya membiarkan “Biarlah, daripada ia menikah lagi, yang penting dia pulang dan menjadi ayah yg baik”

another story: bibi di rumah pernah cerita, diantara majikannya ada yg suaminya punya 4 istri. Keempat istri tersebut hubungannya baik. Bibi bertanya ke majikannya yg merupakan istri pertama. jawabannya: “demi mendapat surga firdaus bi…”

Untuk perkara jajan di luar apalagi mliara perempuan lain, buat boenda jelas banget NO EXCUSE dalam kedua hal tersebut. Poligami? hmm entar dulu,…
Begitu pentingnya poligami ini, hingga Allah mengaturnya dalam Al-Qur’an. Seorang pria diperbolehkan menikahi 4 orang lagi. Namun bila dirasa tidak dapat berlaku adil, maka menikahi 1 orang wanita lebih utama baginya.

Seorang ustadzh dalam sebuah pengajian  dgn tema pernikahan islami, menjelaskan lebih detail perihal poligami ini. Bahwa bila ingin berpoligami, pria tersebut tidak perlu meminta izin kepada istri pertamanya, cukup pemberitahuan saja. Disinilah gunanya keterbukaan saat proses menuju pernikahan. Seorang wanita berhak memberitahukan apa-apa yg akan menjadi keberatannya saat menikah, termasuk di dalamnya keberatan untuk dipoligami, misalnya.

Walau terkesan “tidak adil” ustadzh memberikan penjelasan dgn baik “ukhti fillah, walaupun anti semua menolak poligami, janganlah sesekali anti semua membenci konsep poligami tersebut, kenapa? karena konsep tersebut langsung diatur oleh Allah. Karenanya membenci konsep poligami = membenci apa-apa yg ditetapkan Allah = membenci Allah. Katakanlah di saat ingin menikah: ‘ya saya menerima konsep poligami ini, tapi maaf saya belum bisa menerapkannya’ dan beristighfar lah…”

Beranjak dari penjelasan ustadzh tersebut, saat ayah dan boenda sedang dalam proses menikah, ayah bertanya mengenai konsep poligami. Boenda ingat dengan jelas, menjawabnya dengan “saya tidak membenci konsep tersebut, tapi maaf, saya belum dapat menerapkannya”


hehe jaim ya jawabannya, itu sebelum nikah, saat sudah nikah, dan dalam diskusi serupa, jawaban boenda lebih tajam “kalau ayah selingkuh, apalagi sampai menikah lagi, satu kalimat untukmu yah: kita cerai” Cukup adil boenda rasa. Silahkan menikah lagi, tapi maaf saya sulit untuk berbagi…

Memang tetap menyakitkan, namun akan lebih baik bila suami berkata jujur bahwa ia telah menikah, daripada ia asik jajan di luaran, hobi berkaraoke dan gemar ke tempat pijat plus plus atau ke tempat prostitusi. Bahkan lebih menyakitkan lagi bila sampai ia “meliara” perempuan lain tanpa status pernikahan.

Wallahualam bisshawab,…
Semoga hanya maut yang memisahkan sejenak ayah dan boenda hingga tiba waktunya hidup abadi berkumpul dalam surgaNya

 

-siBoenda-

10 thoughts on “Antara Jajan, Selingkuh dan Poligami

  1. Tulisannya bagus mbak..

    sebelum terlalu jauh membahas poligami, disamping tidak berpengalaman (nauzubillah), pasti ada sebab akibat.
    alangkah baiknya, jika memang saling terbuka antar pasangan, dan saling memahami serta bercermin diri, dan selalu ingin memperbaiki diri
    hehe
    sok tau ah…
    *tuing*

    Salam,

  2. Sebetulnya, Poligamipun pilihan sulit bagi suami, tapi lebih berbahaya lagi membiarkan dirinya berzina, jajan dan mencari hiburan di luar istrinya.. semoga Istri2 yang di poligami mendapatkan syurga ALLAH. Aamiiin🙂

  3. Poligami itu hendaknya dipandang sebagai suatu hal yang sangat sangat berat dilakukan oleh pria yang sudah memiliki istri apabila ia hendak bermain main dg perempuan lain. Poligami adalah perkawinan, bukan permainan. Pria dituntut bertanggung jawab menafkahi finansial dan non finansial, sebagaimana menafkahi istri pertamanya, bukan utk mempermainkan wanita. Rasulullah saja dalam suatu riwayat pernah berbuat tidak adil kpd istri-istrinya, apalagi pria pria biasa. Sayang sekali dimanapun bahkan di Arab sekalipun poligami dianggap sbg status dan sbg hiburan, walaupun mereka merasa bisa berbuat adil secara material. Di Indonesia yg tidak sekaya Arab, poligami dianggap kegagahan pria yg mampu mengendalikan banyak wanita, status dan hiburan walau ditengah kehidupan ekonomi pas pasan, atau dr hasil korupsi. Poligami harus dianggap sebagai sesuatu yg sangat berat krn syarat adil tidak boleh diremehkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s