Rumahku, sekolahku….

Minggu sore, alhamdulillah boenda bisa nonton tayangan ulang Kick Andy yg temanya tentang pornografi pada anak. Awal mulanya sih, pingin banget nonton karena episode tersebut sebelum naik tayang sempet membuat “heboh”, konon si presenter mengusir Dewi Motik saat proses rekaman.Pingin liat kaya apa sih tayangannya sampai membuat Dewi Motik jengah =)

Believe or not, sepanjang tayangan boenda merinding! iyah merinding mendengar pengakuan dari 3 narasumber dan apa-apa yg dijelaskan oleh ibu Elly Risman, Psi. Betapa dasyatnya hasil karya tayangan-tayangan pornografi, yang anak SD pun sudah mulai berperilaku tidak senonoh. Hal tersebut banyak yg disebabkan oleh kelalaian orangtua. Duh Gusti…

Ada banyak kalimat ibu Elly yang cukup terbenam dalam di pikiran boenda. Salah satunya kurang lebihnya:

“……banyak fenomena dimana anak itu di sub-kontrakkan….”

#jleb

di sub-kontrakkannya bagaimana?

misal: Orangtua seperti terlenakkan dengan bermunculannya sekolah-sekolah agama. Mereka, dengan menyekolahkan anaknya ke sekolah agama tersebut, menjadi lalai menganggap “tuntas” sudah kewajiban mereka memberikan pondasi dasar kehidupan anak.

Ini menjadi tamparan untuk boenda yg telah men-sub-kontrakkan Aira. Mengingatkan kembali pada tulisan yg pernah boenda baca bahwa rumah adalah madrasah pertama dan utama untuk anak-anak. Sekolah pada hakikatnya adalah lingkungan pendukung apa-apa yg diajarkan di rumah.

Sewaktu di Jakarta kemarin, boenda sempat “ditegur” oleh ayah gaeknya Aira perihal memasukkan Aira ke montessori school. Saat itu boenda jawab singkat “ga ada sekolah berbasis islam untuk seumuran Aira, pa..adanya mulai dari jenjang playgroup”

Benar adanya kok, alasan tersebut ga dibuat-buat. Boenda sudah mencari informasi mengenai sekolah-sekolah untuk umur 2 tahun kebawah. Hasilnya, memang tidak ada yg berbasis pendidikan agama. Sekolah yg menyediakan kelas usia 2 tahun kebawah adalah sekolah umum yg mengadaptasi pola pendidikan luar negeri. Akhirnya dari diskusi dengan ayah, kami sepakat memasukkan Aira ke montessori school. Kami sepakat, bahwa nilai-nilai dasar kebaikan sifatnya universal bisa didapat dimana saja.

Semoga keputusan kami memasukkan Aira ke sekolah formal sejak dini, tidak membuat kami memiliki dalih pembenaran untuk “mangkir” dari tugas kami menjadikan rumah sebagai sekolah pertama dan utama untuk Aira….

*Aira anakku, jika kelak engkau baca tulisan ini,..percayalah keputusan kami menyekolahkanmu bukan karena kami bosan mendidikmu. Kami ingin memberikanmu suasana dengan nuansa selain lingkungan rumahmu. Membuatmu terbiasa bersosialisasi dengan orang lain, belajar berbagi, dan menerapkan apa-apa yang kami ajarkan dan tanamkan pada dirimu*

with love,..

-siBoenda-

2 thoughts on “Rumahku, sekolahku….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s