piissss deh ah

Pernah liat iklan susu S*M yg nampilin mirles sm sarseh?

Nah, perhatiin ga tagline mereka “Saya…. saya anak S*M, begitu pula anak saya”

ini bikin keributan lho..

Bagi sebagian orang, mungkin bertanya “kenapa sih diributin, toh itu kan susu lanjutan (untuk konsumsi diatas 1thn)”???

tapi bagi sebagian lain (include boenda ya) jelas perlu di ‘counter’, kenapa?

iklan tersebut menampilkan 2 tokoh yg dianggap sukses dalam masyarakat. Seolah ingin menampilkan, bahwa kedua tokoh itu sukses karena waktu kecilnya menggunakan MERK PRODUK yang diiklankan. Ini secara ga langsung, memberitahu bahwa bukan cuma susu lanjutannya saja yg bagus, tapi juga susu formula (susu u/dbwh 1 thn) dgn merk tersebutlah yg membuat seseorang menjadi sukses

Padahal kan ga begitu ya, susu untuk anak usia di atas 1 thn, cuma jadi pelengkap. Yang diambil cuma kalsiumnya, which is kalsium bukan cuma ada di susu, tapi juga bisa kita dapetin di makanan (contohnya: dari ikan teri, brokoli, keju, yoghurt, dll). Selebihnya, zat-zat yg terkandung di susu lanjutan itu sifatnya “aksesoris” belaka. Semuanya buatan, yg ga mudah terserap dalam tubuh kita. Perkara jadi orang sukses, juga jelas bukan karena susu. Ada unsur stimulasi, unsur pendidikan, unsur usaha ya tho?

kemudian muncul opini “ya kita tau lah soal gitu, tapi berlebihan amat ngeributinnya”

pertanyaan nya: “kita itu siapa??” apakah “kita” disini itu adalah orang-orang yg punya blackberry, punya laptop, punya ipad, punya gatab yg bisa nongkrongin dunia maya saban hari? apakah “kita” yg dimaksud adalah orang-orang yg bisa gampang menemui dokter spesialis anak atau tenaga kesehatan, karena punya dana lebih? kalau iya, yaeyaalaaahh bisa tau info kaya di atas itu

Tapi, coba deh berpikir, apakah masyarakat di luar “kita” itu bisa dapet akses informasi sebaik “kita”? jawabannya TIDAK

boro-borooo bisa nongkrongin internet, boro-borooo bisa ke dokter, lha bertahan hidup aja harus jungkir balik dulu! dan jumlahnya LEBIH BESAR dari jumlah “kita” lho. Masih lebih banyak orang-orang menengah kebawah. Disinilah masalahnya, kenapa itu iklan harus diributin. Melalui iklan televisi, produsen susu bisa menjangkau masyarakat menengah ke bawah. Kebayang ga, begitu mereka tonton iklan tersebut, sekali dua kali dan kemudian berkali-kali, tertanam di otak mereka SUPAYA ANAK BISA SUKSES BERARTI HARUS MINUM SUSU ITU! ditambah ga ada akses untuk dapetin informasi yang benar, semakin tertanam deh tuh pesan iklan tersebut. Bukan cuma si ibu nya yg bisa terpengaruh, tapi juga orang-orang di sekitarnya. Suaminya, orangtuanya, mertuanya, tetangganya. Ujung-ujungnya, lingkungan menganggap bahwa susu itu lah yg terbaik untuk anak. Jadi, ga perlu dikasih ASI juga anak bisa sukses, nah lho!

Dan, fyi sebenernya WHO juga melarang iklan-iklan ky gitu, jd ga cuma melarang iklan berbau susu formula aja, tapi juga susu lanjutan. See, IMHO, inilah sebenernya yg diributin.

Beranjak dari iklan itu, muncul deh ribut-ribut yang lain (di twitter at least) muncul lagi deh tu idiom ASI vs SUFOR

boenda cengar-cengir aja deh liat timeline yg berseliweran. Lucu! banyak yang sensi euyh

heeeee,… gimana ya

gini deh, disini boenda ga berbicara as a lactation counsellor yaaa (blom pede, pngalaman jadi KL baru cetek yeuh) tapi sebagai ibu yg punya pengalaman hampir 2 tahun nyusui anak

ribut-ribut soal ASI vs SUFOR, IMHO ga akan ada habisnya, bu! pasti akan teruuusss ada, SELAMA:

1. Belum terwujudnya kondisi ideal

alias kondisi dimana susu formula, susu lanjutan dan segala bentuk pemberian pengganti ASI (PASI) sulit untuk diperjual-beli kan, sulit untuk di iklankan secara brutal… ini terkait erat dengan fakta rendahnya tingkat pemberian ASI exclusive  dan tingginya tingkat pemberian susu formula. Fyi, indonesia cuma 15% lho tingkat pemberian ASI exclusive nya *prihatin*

2. Masih ada judging, penggunaan istilah “ibu gagal” dan “anak sapi”  di kampanye ASI

Emang sih paling BETE denger istilah ANAK SAPI, ebujug dah udah cape hamil sakit waktu ngelahirin, mosok anak kita disebut anak sapi gara-gara minum susu formula. Apalagi sampe ada istilah “ibu gagal” bussseeeetttt ibu gagal mah, dalam pikiran boenda ya ibu yg tega nelantarin anaknya, atau seorang wanita yg mengalami keguguran kan gagal jadi ibu tuh

nah, ini emang perlu kehati-hatian dalam penggunaan kalimat. Alih-alih mau menggalakkan pemberian ASI, yg ada orang malah jadi antipati

3. Terlalu sensitifnya ibu-ibu yg memberi susu formula ke anaknya

ummm,.. jd hati-hati nih ngebahas point ini *garuk-garuk kepala*

gimana bahasnya ya,…

umm jadi gini, IMHO ga perlu lah terlalu sensitif. Kalau ada kampanye mengenai ASI dan SUFOR biarin ajalah, yg lagi kampanye itu ya lagi melakukan ‘tugas’ nya bukan bermaksud menyindir pribadi dirimu. kalau ga kuat hati, tutup mata tutup telinga ajah, make it simple and easy, mommie! jgn lah jadi berpikiran “kampanye nya ke yg hamil aja gih sana”

edukasi ttg ASI dan menyusui ini juga perlu ke ibu-ibu yg sudah punya anak. Baik yg udah kasih ASI, maupun susu formula. Untuk yg udah kasih ASI, edukasi tetap perlu untuk tetap menjaga semangat pemberian ASI. yang memberikan susu formula, edukasi diperlukan untuk belajar dimana letak kegagalan pemberian ASI nya. Keduanya sama-sama belajar untuk anak selanjutnya. Edukasi juga bukan untuk si ibu, tapi juga lingkungannya. Pemberian ASI akan sulit sukses dilakukan kalau ga ada support penuh dari lingkungan (suami, orangtua, mertua, saudara, teman, tetangga)

So, hyuk deh hyuk sama-sama belajar

untuk kehidupan yg lebih =)

piiiisssss! v (^_^) v

Salam ASI!

-siBoenda-

2 thoughts on “piissss deh ah

  1. ilmu harus terus dicari ya bun, walaupun saya memberikan ASI ke anak.
    Tapi saya agak susah untuk kampanye ASI😀. malas ribut pro kontra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s