Re-learning Part 1… Imunisasi

Gara-gara juengkel karena tidur siang boenda keganggu mba-mba yg siang-siang bolong dateng ke rumah orang buat nawarin demo bikin kue  (-__-“)

*nyang boneng aje lho mba, ujug-ujug dateng mau bikin demo di rumah orang jam 2 siang*

bikin boenda ga bisa tidur lagi, jadilah daripada ngomel2 ga jelas, boenda coba produktip posting blog sajah

Belajar dari pengalaman waktu hamil Aira, boenda jadi pingin baca-baca tentang banyak hal yg dulu ga boenda ketahui. Nah, dalam semingguan ini, boenda habis baca-baca tentang jaundice, fimosis dan imunisasi. Maksudnya sih pengen posting hasil baca-baca ketiga hal tersebut, tapi kayanya ttg imunisasi dulu aja kali yah. Postingan tentang jaundice dan fimosisnya, insya Allah akan boenda tulis di lain waktu.

boenda termasuk emak yang pro-imunisasi, alasannya ada di postingan yang ini. Hal-hal yang boenda pelajari berkisar tentang apa itu vaksin hidup, vaksin mati, kapan saatnya imunisasi perlu ditunda, apa itu imunisasi simultan dan termasuk kembali pelajari masalah halal dan haramnya imunisasi.

Sumber utama bacaan boenda banyak berasal dari arsipnya milis sehat, sudah boenda save di bb tapi pikir boenda takut ntar bb nya kenapa2 terus malah ilang dan harus ngubek2 lagi mending boenda posting di blog aja deh. lagipula, siapa tau postingan ini bermanfaat untuk anak-anak boenda kelak maupun untuk orang lain, ya tho ya thooo🙂

Nah, dari hasil baca-baca boenda, yang termasuk vaksin hidup contohnya seperti; polio oral, BCG, MMR, campak dan cacar air. Sedangkan yang termasuk vaksin mati, contohnya kaya hepatitis A, hepatitis B, DPT, HiB dan thypoid. Kedua jenis vaksin ini bisa dilakukan secara simultan alias bersamaan, kalaupun mau diberi jarak, untuk vaksin hidup, jarak dgn vaksin hidup lainnya idealnya 4 minggu. Kalau jarak antara vaksin hidup dan vaksin mati boleh kapan aja terserah, begitu juga jarak antar vaksin mati juga boleh kapan aja.

Lho kok simultan, boenda? kan kasian babynya disuntik bersamaan gitu..

Dulu kaya gitu tuh pola pikir boenda, kasian Aira ah kalo disuntik berkali-kali dalam satu waktu. Tapi yah, ternyata setelah boenda baca dan pikir2 imunisasi simultan itu banyak untungnya lho.(1) bisa mengurangi trauma anak dengan berkurangnya frekuensi ke dokter, (2) mengurangi angka kunjungan ke dokter yg berarti menghemat tenaga, waktu dan biaya), (3) meminimalisir potensi anak terpapar anak lain yang sedang sakit. Dan dari penelitian, apabila dilakukan dengan cara mengalihkan perhatian anak sambil dipeluk atau dirangkul, imunisasi simultan ga nyebabin trauma kejiwaan pada anak. Dan imunisasi simultan ternyata ga meningkatkan resiko efek samping dan mengurangi efektivitas vaksinnya seperti anggapan orang pada umumnya. jadi kayanya adek-adeknya Aira nanti bakalan di imunisasi secara simultan deh yah…


kapan saat imunisasi ditunda?

(1) bila sedang sakit berat dam akut, demam tinggi

(2) ada reaksi alergi yang berat

(3) bila anak menderita gangguan sistem imunitas yang berat misalnya sedang terapi steroid dengan jangka lama, dan anak mengidap HIV) nah, untuk itu ga boleh diberi vaksin hidup dulu

(4) alergi terhadap telur, untuk ini hindari imunisasi influenza

selain 4 alasan di atas, ga ada alasan lain yang membuat suatu imunisasi itu perlu ditunda. Hehehee pengakuan: dulu boenda pernah nunda imunisasi Aira dengan alasan Aira pilek selain alasan lupa =P insya Allah untuk anak selanjutnya, boenda mau lebih disiplin soal imunisasi ini

Terus boenda juga baca-baca dan cari tau tentang halal-haramnya imunisasi. Karena ini ga main-main lho, semakin merebak gerakan anti vaksin, alasannya macem-macem, salah satu karena status halal-haramnya imunisasi. Konon karena gencarnya gerakan anti vaksin ini, terjadi wabah difteri di Jawa Timur hingga ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa karena udah ratusan anak yang jadi korban, seperti diberitain di

http://regional.kompas.com/read/2011/10/09/13390318/328.Anak.Tewas.Jatim.KLB.Difteri

atau di
http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/PUBLICATIONS/MI/MI/2011/10/10/Article\
Htmls/KLB-Difteri-Jatim-Lakukan-Vaksinasi-Massal-10102011010023.shtml?Mode=1

sedih yah, padahal dulu Indonesia pernah bebas difteri lho ='(

untuk masalah halal-haram imunisasi, boenda copas Majalah Al Furqan, Edisi 05 Th. ke – 8 1429 H/2008 M, oleh : Al Ustadz Abu
Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi.

Penjelasan tersebut dibuat untuk membahas mengenai status halal-haramnya vaksin polio sih tapi boenda rasa, basicnya bisa diterapkan untuk penjelasan status halal-haram vaksin lainnya

Hukum Asal Imunisasi
Imunisasi hukumnya boleh dan tidak terlarang, karena termasuk penjagaan diri
dari penyakit sebelum terjadi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
: ” Barangsiapa yang memakan tujuh butir kurma ajwah, maka dia akan terhindar
sehari itu dari racun dan sihir” (HR. Bukhari : 5768, Muslim : 4702).
Hadits ini menunjukkan secara jelas tentang disyari’atkannya mengambil sebab
untuk membentengi diri dari penyakit sebelum terjadi.[5] Demikian juga kalau
dikhawatirkan terjadi wabah yang menimpa maka hukumnya boleh sebagaimana halnya
boleh berobat tatkala terkena penyakit.[6]
B.Jembatan Menuju Jawaban
Untuk sampai kepada status hukum imunisasi model di atas, kami memandang penting
untuk memberikan jembatan terlebih dahulu dengan memahami beberapa masalah dan
kaidah berikut, setelah itu kita akan mengambil suatu kesimpulan hukum.[8]

1.Masalah Istihalah
Maksud Istihalah di sini adalah berubahnya suatu benda yang najis atau haram
menjadi benda lain yang berbeda nama dan sifatnya. Seperti khomr berubah menjadi
cuka, bai menjadi garam, minyak menjadi sabun, dan sebagainya.[9]
Apakah benda najis yang telah berubah nama dan sifatnya tadi bisa menjadi suci?
Masalah ini diperselisihkan ulama, hanya saya pendapat yang kuat menurut kami
bahwa perubahan tersebut bisa menjadikannya suci, dengan dalil-dalil berikut :
a.Ijma’ (kesepakatan) ahli ilmu bahwa khomr apabila berubah menjadi cuka maka
menjadi suci.
b.Pendapat mayoritas ulama bahwa kulit bangkai bisa suci dengan disamak,
berdasarkan sabda Nabi ” Kulit bangkai jika disamak maka ia menjadi suci.” (
Lihat Shohihul-Jami’ : 2711)
c.Benda-benda baru tersebut – setelah perubahan – hukum asalnya adalah suci dan
halal, tidak ada dalil yang menajiskan dan mengharamkannya.
Pendapat ini merupakan madzhab Hanafiyyah dan Zhohiriyyah[10], salah satu
pendapat dalah madzhab Malik dan Ahmad[11]. Pendapat ini dikuatkan oleh
Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah[12], Ibnul Qoyyim, asy-Syaukani[13], dan
lain-lain.[14]
Alangkah bagusnya ucapan Imam Ibnul-Qoyyim : “Sesungguhnya benda suci apabila
berubah menjadi najis maka hukumnya najis, seperti air dan makanan apabila telah
berubah menjadi air seni dan kotoran. Kalau benda suci bisa berubah najis,
lantas bagaimana mungkin benda najis tidak bisa berubah menjadi suci? Allah
telah mengeluarkan benda suci dari kotoran dan benda kotor dari suci. Benda asal
bukanlah patokan. Akan tetapi, yang menjadi patokan adalah sifat benda tersebut
sekarang. Mustahil benda tetap dihukumi najis padahal nama dan sifatnya telah
tidak ada, padahal hukum itu mengikuti nama dan sifatnya.”[15]

2.Masalah Istihlak
Maksud Istihlak di sini adalah bercampurnya benda haram atau najis dengan benda
lainnya yang suci dan hal yang lebih banyak sehingga menghilangkan sifat najis
dan keharamannya, baik rasa, warna, dan baunya.
Apabila benda najis yang terkalahkan oleh benda suci tersebut bisa menjadi suci?
Pendapat yang benar adalah bisa menjadi suci, berdasarkan dalil berikut : “Air
itu suci, tidak ada yang menajiskannya sesuatu pun.” (Shohih. Lihat
Irwa’ul-Gholil:14)
“Apabila air telah mencapai dua qullah maka tidak najis.” (Shohih. Lihat
Irwa’ul-Gholil:23).
Dua hadits di atas menunjukkan bahwa benda yang najis atau haram apabila
bercampur dengan air suci yang banyak, sehingga najis tersebut lebur tak
menyisakn warna atau baunya maka dia menjadi suci. Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah
berkata: “Barang siapa yang memperhatikan dalil-dalil yang disepakati dan
memahami rahasia hukum syari’at, niscaya akan jelas baginya bahwa pendapat ini
paling benar, sebab najisnya air dan cairan tanpa bisa berubah, sangat jauh dari
logika.”[16]
Oleh karenanya, seandainnya ada seseorang yang meminum khomr yang bercampur
dengan air yang banyak sehingga sifat khomr-nya hilang maka dia tidak dihukumi
minum khomr. Demikian juga, bila ada seorang bayi diberi minum ASI (air susu
ibu) yang telah bercampur dengan air yang banyak sehingga sifat susunya hilang
maka dia tidak dihukumi sebagai anak persusuannya.”[17]

3.Dhorurat dalam Obat
Dhorurat (darurat) adalah suatu keadaan terdesak untuk menerjang keharaman,
yaitu ketika seorang memilki keyakinan bahwa apabila dirinya tidak menerjang
larangan tersebut niscaya akan binasa atau mendapatkan bahaya besar pada
badanya, hartanya atau kehormatannya. Dalam suatu kaidah fiqhiyyah dikatakan:
“Darurat itu membolehkan suatu yang dilarang”
Namun kaidah ini harus memenuhi dua persyaratan: tidak ada pengganti lainya yang
boleh (mubah/halal) dan mencukupkan sekadar untuk kebutuhan saja.
Oleh karena itu, al-Izzu bin Abdus Salam mengatakan : “Seandainya seorang
terdesak untuk makan barang najis maka dia harus memakannya, sebab kerusakan
jiwa dan anggota badan lebih besar daripada kerusakan makan barang najis.”[20]

4.Kemudahan Saat Kesempitan
Sesungguhnya syari’at islam ini dibangun di atas kemudahan. Banyak sekali
dalil-dalil yang mendasari hal ini, bahkan Imam asy-Syathibi mengatakan:
“Dalil-dalil tentang kemudahan bagi umat ini telah mencapai derajat yang
pasti”.[20]
Semua syari’at itu mudah. Namun, apabila ada kesulitan maka akan ada tambahan
kemudahan lagi. Alangkah bagusnya ucapan Imam asy-Syafi’i tatkala berkata :
“Kaidah syari’at itu dibangun (di atas dasar) bahwa segala sesuatu apabila
sempit maka menjadi luas.”[21]

5.Hukum Berobat dengan sesuatu yang Haram
Masalah ini terbagi menjadi dua bagian :
a.Berobat dengan khomr adalah haram sebagaimana pendapat mayoritas ulama,
berdasarkan dalil : “Sesungguhnya khomr itu bukanlah obat melainkan penyakit.”
(HR. Muslim:1984) Hadist ini merupakan dalil yang jelas tentang haramnya khomr
dijadikan sebagai obat.[22]
b.Berobat dengan benda haram selain khomr. Masalah ini diperselisihkan ulama
menjadi dua pendapat :
Pertama : Boleh dalam kondisi darurat. Ini pendapat Hanafiyyah, Syafi’iyyah, dan
Ibnu Hazm.[23] Di antara dalil mereka adalah keumuman firman Allah :…
Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu,
kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya…. (QS. Al- An’am [6]:119)
Demikian juga Nabi membolehkan sutera bagi orang yang terkena penyakit kulit,
Nabi membolehkan emas bagi sahabat arfajah untuk menutupi aibnya, dan bolehnya
orang yang sedang ihrom untuk mencukur rambutnya apabila ada penyakit di
rambutnya.
Kedua: Tidak boleh secara mutlak. Ini adalah madzab Malikiyyah dan
Hanabillah.[24] Di antara dalil mereka adalah sabda Nabi :”Sesungguhnya Allah
menciptakan penyakit dan obatnya, maka berobatlah dan jangan berobat dengan
benda haram” (ash-Shohihah:4/174)
Alasan lainnya karena berobat hukumnya tidak wajib menurut jumhur ulama, dan
karena sembuh dengan berobat bukanlah perkara yang yakin.
Pendapat yang kuat: Pada asalnya tidak boleh berobat dengan benda-benda haram
kecuali dalam kondisi darurat, yaitu apabila penyakit dan obatnya memenuhi
kriteria sebagai berikut :
1)Penyakit tersebut penyakit yang harus diobati  2)Benar-benar yakin bahwa obat
ini sangat bermanfaat pada penyakit tersebut.  3)Tidak ada pengganti lainnya yang
mubah.[25]

6.Fatwa-fatwa
Dalam kasus imunisasi jenis ini, kami mendapatkan dua fatwa yang kami pandang
perlu kami nukil di sini :
Dalam ketetapan mereka tentang masalah ini dikatakan: “Setelah Majelis
mempelajari masalah ini secara teliti dan menimbang tujuan-tujuan syari’at,
kaidah-kaidah fiqih serta ucapan para ahli fiqih, maka Majelis menetapkan :
1) Penggunaan vaksin ini telah diakui manfaatnya oleh kedokteran yanitu
melindungi anak-anak dari cacat fisik (kepincangan) dengan izin Allah.
Sebagaimana belum ditemukan adanya pengganti lainnya hingga sekarang. Oleh
karena itu, menggunakannya sebagai obat dan imunisasi hukumnya boleh, karena
bila tidak maka akan terjadi bahaya yang cukup besar. Sesungguhnya pinti fiqih
luas memberikan toleransi dari perkara najis- kalau kita katakan bahwa cairan
(vaksin) itu najis- apabila terbukti bahwa cairan najis ini telah lebur dengan
memperbanyak benda-benda lainnya. Ditambah lagi bahwa keadaan ini masuk dalam
kategori darurat atau hajat yang sederajat dengan darurat, sedangkan termasuk
perkara yang dimaklumi bersama bahwa tujuan syari’at yang paling penting adalah
menumbuhkan maslahat dan membedung mafsadat.
2) Majelis mewasiatkan kepada para pemimpin kaum muslimin dan pemimpin markaz
agar mereka tidak bersikap keras dalam masalah ijtihadiyyah (berada dalam ruang
lingkup ijtihad) seperti ini yang sangat membawa maslahat yang besar bagi
anak-anak muslim selagi tidak bertentangan dengan dalil-dalil yang jelas.[26]

b.Fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia)
Majelis Ulama Indonesia dalam rapat pada 1 Sya’ban 1423H, setelah mendiskusikan
masalah ini mereka menetapkan :
1). Pada dasarnya, penggunaan obat-obatan, termasuk vaksin, yang berasal dari –
atau mengandung- benda najis ataupun benda terkena najis adalah haram. 2).
Pemberian vaksin IPV kepada anak-anak yang menderita immunocompromise, pada saat
ini, dibolehkan, sepanjang belum ada IPV jenis lain yang suci dan halal.[27]

C.Kesimpulan dan Penutup
Setelah keterangan singkat di atas, kami yakin pembaca sudah bisa menebak
kesimpulan kami tentang hukum imunisasi IPV ini, yaitu kami memandang bolehnya
imunisasi jenis ini dengan alasan-alasan sebagai berikut :
1.Imunisasi ini sangat dibutuhkan sekali sebagaimana penelitian ilmu kedokteran.
2.Bahan haram yang ada telah lebur dengan bahan-bahan lainnya.
3.Belum ditemukan pengganti lainnya yang mubah.
4.Hal ini termasuk dalam kondisi darurat.
5.Sesuai dengan kemudahan syari’at di kala ada kesulitan.
Demikianlah hasil analisis kami tentang masalah ini, maka janganlah kita
meresahkan masyarakat dengan kebingungan kita tentang masalah ini. Namun seperti
yang kami isyarakatkan di muka bahwa pembahasan ini belumlah titik, masih
terbuka bagi semuanya untuk mencurahkan pengetahuan dan penelitian baik sari
segi ilmu medis maupun ilmu syar’i agar bisa sampai kepada hukum yang sangat
jelas. Kita memohon kepada Allah agar menambahkan bagi kita ilmu yang
bermanfaat. Amin.

 

Boenda juga inget sama salah satu email yang pernah ayah tunjukkin ke boenda. Email tersebut dikirimkan teman se-almamaternya yang kebetulan seorang dokter yg sedang mengambil spesialis neurologi. Dalam email tersebut, beliau tidak hanya membahas tentang imunisasi tapi juga membahas tentang kecenderungan untuk tidak berobat ke dokter dan lebih mengandalkan pengobatan alternative atau pengobatan herbal. Ada beberapa kalimatnya yang boenda garis bawahi:

Di antara berbagai metode/zat pengobatan di era nabi, memandang time frame dan location frame, saya yakin habbatus sauda’ dan bekam memang yang terbaik. Nah jika anda sepakat dg saya bahwa hadist berkuda dapat diganti naik motor/mobil zaman sekarang, maka intisari dari forma habbatus sauda’ adalah obat yang paling poten (pada zaman nabi), dan forma dari bekam adalah tindakan bedah/intervensi yang paling poten (pada zaman nabi). Kala zaman berganti, jangan terjebak pada formanya lagi. Menurut saya, yg saklek dlm Islam dlm bentuk forma yg ga bisa diubah lagi adlh menyangkut ibadah mahdloh.

pada email lain, masih membahas tentang kecenderungan menolak imunisasi, dan pengobatan medis dengan menggantinya dengan pengobatan herbal;

Jika tren ini dibiarkan, kita mengulang jahiliyahnya para pastor yang menghukum mati Galileo….

 

wallahu’alam bisshowwab

Boenda tetap pada pendirian boenda untuk memberikan imunisasi kepada anak-anak boenda kelak, kewajiban boenda adalah melindungi anak-anak dari bahaya apapun, dan imunisasi adalah salah satu bentuk ikhtiar boenda

-siBoenda-

2 thoughts on “Re-learning Part 1… Imunisasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s