Re-Learning part 1… Imunisasi (2)

Masih kisaran tentang imunisasi, beberapa hari yg lalu ayah mem-forward beberapa email dari temann-temannya ke boenda. Karena di salah satu milis yang ayah ikuti, sedang ada diskusi panjang tentang imunisasi.

Cukup menarik informasinya, dan membuat pengetahuan boenda tentang imunisasi jadi bertambah *dan bertambah yakin juga untuk tetap mengimunisasi anak-anak*

di salah satu email itu disebutkan, sistem imunisasi / vaksinasi berasal dari dokter-dokter muslim zaman khalifah Turki Utsmani, dan cikal bakalnya sudah ada dari zaman khilafah abbasiyah. Referensi informasi tersebut menurut penuturan si pengirim sumber email ada pada buku “1001 Inventations Muslim Heritage in Our World” page 178. Tertera:

“The Anatolian Ottoman Turks knew about methods of vaccination, they called vaccination Ashi. or engrafting, and they had inherited it form older turkic tribes”

Informasi berikutnya adalah

Lady Mary Wortley Montagu (1689-1762), istri dari duta besar Inggris untuk Turki saat itu, membawa sistem vaksinasi ke Inggris untuk memerangi smallpox, tapi ditolak oleh pemerintahan Inggris saat itu.

untuk informasi mengenai Lady Mary ini, bisa juga dibaca di:

http://www.psychologytoday.com/blog/child-myths/200909/lady-mary-wortley-montagu-contributor-public-health

berikut boenda kutip tulisan pada URL tersebut:

“Lady Mary Wortley Montagu was a pretty girl until she had smallpox at age 26 and was left with many pitted scars on her face and no eyelashes. Her only brother died of the disease. Despite her disfigurement, Lady Wortley Montagu recovered her health and energy. (And we should remember that plenty of other people had smallpox scars on their faces at that time, so the impact was not exactly what it would be if someone today had the same appearance.) With her husband, who was the British Ambassador to Turkey, and their little son and daughter, she traveled to what was then part of the Ottoman Empire.

She watched with interest as Turkish women carried out a method of inoculation for smallpox. This she described in letters to her family back in England. The Turks waited until cool fall weather came after the heat of the summer was over. They inoculated children by using the purulent matter from the sores of a person who had become infected with smallpox. Cutting into 5 or 6 veins (on the legs or upper parts of the arms), they poked the smallpox matter into the incision and then bandaged the site. The children seemed fine for some days, developed a fever for a few more days, and then generally recovered — immune to smallpox. Lady Wortley Montagu decided to have her own young son inoculated, accepting the fact that a small number of children were harmed by the inoculation, and he recovered well— immune to smallpox.

Returning to England, Lady Wortley Montagu began efforts at public education about inoculation. Her friendship with the then Princess of Wales, later Queen Caroline, was a great support to her work (although it’s probably the case that Lady Mary could have accomplished more if she’d had fewer boyfriends, who didn’t seem to mind the lack of eyelashes). Because of these efforts, the British public was prepared to pay attention 30 years later when Edward Jenner published his evidence about smallpox vaccination.”

kebetulan, si pengirim informasi menambahkan postingan email boenda ke milis sehat, di halaman selanjutnya buku “1001 Inventations Muslim Heritage in Our World” disebutkan bahwa pada tahun 1967 Turki mengeluarkan perangko untuk memperingati 250 tahun vaksin smallpox di Turki.

Adalagi informasi lainnya. Untuk vaksinasi dasar, Indonesia telah berhasil membuat vaksin sendiri, sudah terbukti uji klinis dan epidemiloginya, bahkan dieskpor untuk kepentingan regional Asia Tenggara, di Biofarma, Bandung. Masalah yang berkembang dan mencuat belakangan adalah vaksinasi tambahan, termasuk meningitis untuk calon jamaah haji atau vaksin HPV, yang masih diproduksi oleh produsen luar negeri semisal GSK.

*menurut penuturan guru ngaji boenda, kebetulan beliau bekerja di balai POM, sudah ada vaksin meningitis yang halal untuk calon jemaah haji*

Boenda pun manggut-manggut waktu baca opini teman-temannya ayah yang punya background pendidikan kedokteran. Iya juga, program imunisasi itu kan penelitiannya melibatkan ratusan juta orang, yah dan sudah terbukti manfaatnya. Jadi agak lucu dan aneh boenda bilang kalo bukti2 ilmiah itu digugurkan oleh evidence yg sekelas testimoni, atau asumsi-asumsi yang belum tentu terbukti secara luas kebenarannya apalagi kalau munculnya dari orang-orang yang bukan ahlinya, atau bahkan ga punya background pendidikan kedokteran sama sekali.

sorry to say, maap-maap yeee kalo agak kasar, menurut boenda,

orang tua yang menganggap tidak mengimunisasi anaknya adalah pilihan terbaik dan adalah hak dia untuk memilih untuk tidak mengimunisasi adalah orang tua yang LUPA, lupa bahwasanya ada HAK ORANG LAIN untuk merasa aman dari ancaman penyakit yang mematikan.

(again) IMHO, jumlah vaksin di seluruh dunia emang banyak, ga perlu memberikan semuanya, tapi paling ga kasihlah imunisasi dasar yang udah jadi program pemerintah. lha wong penyakit yang diimunisasi itu endemik di Indonesia

mau ngutip kalimat temennya ayah, beliau punya background pendidikan kedokteran dan sedang mengambil jenjang spesialis, aaahh:

اَللّه sdh Mengaruniakan akal buat kita, ilmu pengetahuan manusia sudah tahu tentang vaksinasi, kampanye sudah dijalankan, digratiskan lagi oleh pemerintah. Secara rasional, ga ada alasan lagi untuk ga vaksinasi

jadi, anggapan bahwa imunisasi / vaksinasi berasal dari kedokteran barat yang penuh konspirasi untuk melemahkan umat muslim, gimana? silahkan menilai dan menjawab sendiri yaaaa🙂

-siBoenda-

**untuk menambah bacaan tentang imunisasi / vaksinasi, bisa meluncur kesini**

6 thoughts on “Re-Learning part 1… Imunisasi (2)

  1. Hi.. Pembahasan yg menarik nih, dan disampaikan dengan halus malah. Sering ga abis pikir dgn para Ortu yang saklek nerima mentah2 omongan bahwa vaksin itu ga halal. Aplg dgn argumen bhw cukup dgn jintan hitam dan madu bisa menyembuhkan. Hellow!! zaman dulu penyakitnya ga seganas sekarang kali. Sori terlalu esmosi. (lap meja bersihin muncratan).

      • maaf saya ni orang yg gap tek. jujur aja, saya baru bisa mengakses internet kurang dari setaun ini. ga tau masalah pro dan kontra imunisasi.
        ni pengalaman saya : stlh melahirkan anak ketiga, keluarga kami diberi ujian berat oleh Allah, sampai sampai untuk mengimunisasi anak aja kami ga mampu, mau pergi ke posyandu, jujur takut juga krn anak pertama dan ke dua ditangani dokter.
        akhirnya smp usia satu tahun hanya sekali imunisasi bcg aja.
        ditengah kegalauan, dalam doa siang malam akhirnya saya menyakinkan diri saya sendiri bahwa Allah menciptakan manusia dengan sangat sempurna, lengkap dgn cara tubuh mempertahankan diri dari kuman atau virus yg notabene diciptakan Allah pula. Bismillah saya menenangkan diri dengan keyakinan itu……anak itu sekarang berusia 4 tahun, Hanya Allah yg tau apa karena dia tidak diimunisasi atau bukan, tapi ga seperti kaka kakanya yg sering sakit dan terkena flek, anak no 3 seumur hidupnya hanya pernah sekali ke dokter. sejak usia setahun saya emang sering ngasih dia madu.
        sekarang adiknya berusia 3 bulan, insya Allah saya mantap untuk tidak diimunisasi juga,

  2. Pingback: Re-Learning part 1.. Imunisasi (3) « -siBoenda-

  3. Pingback: Seminar IMUN is ASI « Metode Terpadu Pembentukan Karakter Unggulan Sejak Dini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s