Re-Learning part 1.. Imunisasi (3)

Wow… ternyata ada tamu blog ini membahas tentang postingan boenda tentang imunisasi yang ini di grup facebooknya dokter pula yang mencounter hehehehe jadi merasa terhormat, tapi mbok dicolek-colek dulu tho siempunya blog *blushing*

Darimana taunya??

ehem,.. kebeneran ada yg posting counter balik si mba dokter ke milisnya ayah. Nah, ayah pan kalau ada pembahasan tentang imunisasi di milisnya, selalu mem-forward email tersebut ke boenda. Waktu boenda baca, DOENK! yang dicounter balik mba dokter nya ternyata postingan boenda…huahahahaha

sayang banget sih mba, lha wong dirimu dan diriku kan saling follow di twitter, colek-colek dulu dong kalau emang ga berkenan. Atau bisa langsung kasi tanggapan di blog ini =))

lets see, apa yg dicounter dari blognya boenda, ini boenda ambil dari tulisan beliau di grup FBnya (sayang sekali, boenda bukan member grupnya)

Bismillah. Assalamu’alaykum wa rahmatullah.
Perdebatan pro – kontra vaksin sepertinya kian memanas, mengingat dalam 1 minggu ke depan adalah Pekan Imunisasi Nasional (PIN) dimana semakin banyak orangtua cerdas memilih uuntuk menghindari vaksin. Berbagai macam alasan para orangtua untuk memilih mengatakan TIDAK UNTUK VAKSINASI, kelompok ini lebih dikenal dengan kelompok kontra vaksinasi sebaga…i kelompok minoritas. Diantara alas an mereka adalah kekhawatiran akan bahaya vaksin dan dari segi halal/haramnya produk yang digunakan. Sebagai Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, tentunya wajar sekali jika isu halal/tidaknya menjadi perhatian khusus para orangtua.

Dan hal tersebut pula yang saya kritisi kepada pihak Biofarma, sebagai produsen vaksin lokal. Dimana sepengetahuan saya bahwa dalam menentukan halal/tidaknya sebuah produk, diwajibkan proses audit dari LPPOM MUI. Namun ternyata, lembaga tersebut tidak pernah mengaudit dan pihak Biofarma mengakui bahwa mereka tidak pernah meminta untuk diaudit. Aneh bukan? Pengakuan ini saya peroleh ketika menghadiri debat pro-kontra imunisasi yang diselenggarakan oleh majalah Ayahbunda di Jakarta.

Dalam 1 minggu menjelang dilaksanakannya PIN, situasi perdebatan semakin memanas. Kemudian muncul sebuah argumentasi yang memojokkan pihak kontra vaksinasi melalui sebuah blog.
Uraian ini bukan untuk menyudutkan siapapun, lebih memberikan ketegasan sikap atas PRINSIP DASAR ALASAN bagi pihak kontra dalam menolak vaksinasi. Saya akan mencoba menjabarkan secara bertahap analisa dan jawaban atas argumentasi di bawah ini.

Dari sebuah blog yang saya baca, menuliskan bahwa “sistem imunisasi/vaksinasi berasal dari dokter-dokter muslim zaman khalifah Turki Utsmani, dan cikal bakalnya sudah ada dari zaman khilafah abbasiyah. Referensi informasi tersebut menurut penuturan si pengirim sumber email ada pada buku “1001 Inventations Muslim Heritage in Our World” page 178. Tertera: “The Anatolian Ottoman Turks knew about methods of vaccination, they called vaccination Ashi. or engrafting, and they had inherited it form older turkic tribes”

Dalam hati, sejujurnya saya terkagum-kagum bahwa begitu hebatnya ilmuwan Islam namun hingga saat ini dunia barat pun masih belum memberikan pengakuan kepada para ilmuwan Islam. Satu kata yang menarik perhatian saya adalah “ENGRAFTING”. Saya memiliki latar belakang pendidikan dokter umum dan kebetulan ayah adalah seorang dokter spesialis bedah, sehingga kata “ENGRAFTING” sudah sering saya dengar sejak beranjak remaja.
Jika merujuk pada kamus kedokteran maka kata tersebut memiliki arti melakukan penanaman pada bagian tubuh, bisa kulit dan sebagainya.

Lalu karena semakin penasaran akan istilah ASHI / ENGRAFTING di jaman tersebut, maka saya telusuri mbah google demi memuaskan keingintahuan. Prinsip dasar saya bahwa ilmu yang diterima haruslah seimbang, dalam arti cek dan ricek adalah penting.

Sebagai kelanjutan kisah terhadap blog tersebut, maka mari kita lanjutkan hingga selesai uraian tersebut yah.

“Informasi berikutnya adalah Lady Mary Wortley Montagu (1689- 1762), istri dari duta besar Inggris untuk Turki saat itu, membawa system vaksinasi ke Inggris untuk memerangi smallpox, tapi ditolak oleh pemerintahan Inggris saat itu.
Untuk informasi mengenai Lady Mary ini, bisa juga dibaca di: www/.psychologytoday.com/blog/child-myths/200909/lady-mary-wortley-montagucontributor-public-health

Berikut kutipan tulisan pada URL tersebut:
“Lady Mary Wortley Montagu was a pretty girl until she had smallpox at age 26 and was left with many pitted scars on her face and no eyelashes. Her only brother died of the disease. Despite her disfigurement, Lady Wortley Montagu recovered her health and energy. (And we should remember
that plenty of other people had smallpox scars on their faces at that time, so the impact was not exactly what it would be if someone today had the same appearance.) With her husband, who was the British Ambassador to Turkey, and their little son and daughter, she traveled to what was then part of the Ottoman Empire.
She watched with interest as Turkish women carried out a method of inoculation for smallpox. This she described in letters to her family back in England. The Turks waited until cool fall weather came after the heat of the summer was over. They inoculated children by using the purulent matter from the sores of a person who had become infected with smallpox. Cutting into 5 or 6 veins (on the legs or upper parts of the arms), they poked the smallpox matter into the incision and then bandaged the site. The children seemed fine for some days, developed a fever for a few more days, and then generally recovered — immune to smallpox. Lady Wortley Montagu decided to have her own young son inoculated, accepting the fact that a small number of children were harmed by the inoculation, and he recovered
well— immune to smallpox. Returning to England, Lady Wortley Montagu began efforts at public education about inoculation. Her friendship with the then Princess of Wales, later Queen Caroline, was a great support to her work (although it’ s probably the case that Lady Mary could have accomplished more if she’d had fewer boyfriends, who didn’t seem to mind the lack of eyelashes). Because of these efforts, the British public was prepared to pay attention 30 years later when Edward Jenner published his evidence about smallpox vaccination.”

Semakin penasaran dengan kisah diatas, maka saya telusuri lebih jauh tentang smallpox, Edward jenner dan ashi Turkic tribes. Pencarian akhirnya membuat saya menemukan link ini http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1200696/ dimana dalam link ini merupakan jurnal ilmiah akan sejarah Edward Jenner sebagai penemu vaksin cacar air/smallpox.

Dalam pengkajian lebih lanjut, semakin memperkuat keyakinan saya bahwa vaksin saat ini dengan teknologi modern memang berbahaya tidak hanya bagi orangtua namun juga bagi bayi dan anak-anak.

Prinsip dasar ASHI atau Inokulasi pada jaman itu hampir sama dengan prinsip vaksinasi alamiah yang masyarakat lakukan terhadap campak. Tentunya ayah bunda pernah mendengar anjuran banyak pihak bahwa jika ada yang sakit campak, maka biarkanlah anak kita tertular dengan demikian anak akan memiliki antibody terhadap penyakit tersebut dengan sendirinya.
Nah ASHI, memang memaparkan penyakit terhadap orang sehat dengan cara melakukan sayatan pada kulit daerah subkutan dan memberikan bagian dari cacar air kedalamnya. Mirip namun tak sama dalam hal teknis.

Kemudian bisa dibaca pula uraian mengenai peran wanita tersebut diatas dalam dunia kesehatan masyarakat pada link ini eurpub.oxfordjournals.org/content/18/4/353.full

Setelah tuntas membaca dan mengkaji, Alhamdulillah keyakinan saya tidak berubah bahkan semakin menguatkan bahwa vaksin kimia saat ini yang dipergunakan memang berbahaya.

Mereka telah salah memahami bahwa penolakan kami adalah pada prinsip vaksinasinya. Padahal, penolakan kami adalah penggunaan bahan kimia yang berbahaya didalam vaksin modern tersebut. Jika dianalisa dari tindakan vaksinasi “kuno”, bisa kita pahami bahwa jaman itu mereka TIDAK menggunakan bahan-bahan kimia seperti merkuri, garam alumunim, atau bahkan menggunakan media hewan haram dalam proses pengembangbiakkan kuman/virus.

Bagaimanapun dalam hati kecil saya saat membaca dan mencari tahu lebih jauh, berpegangan pada prinsip bahwa seorang MUSLIM akan menghindari penggunaan bahan haram dan berbahaya. Dan itu TERBUKTI.

Untuk mengetahui bagaimana peran garam alumunium dalam tubuh, silakan dibaca penelitian ini dimana garam alumunium yang disuntikkan kedalam tubuh seekor tikus memberikan kerusakan bahkan kehancuran dari sel setiap organ tikus tersebut. Dosis yang digunakan tentunya disesuaikan dengan tubuh tikus tersebut. Lalu bagaimana dengan tubuh seorang bayi yang dilakukan berulang kali?

Link terhadap penelitian alum atau garam alumunium bisa dibaca disini :
http://therefusers.com/refusers-newsroom/aluminum-based-adjuvants-cause-cell-death-and-release-of-host-cell-dna/
http://www.sciencedaily.com/releases/2011/07/110717204910.htm
http://www.nature.com/nm/journal/v17/n8/full/nm.2403.html
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/m/pubmed/21568886/

Link diatas hanyalah mengenai fakta akan bahaya garam alumunium yang digunakan sebagai bahan adjuvant di SEMUA vaksin. Untuk bahan vaksin lainnya, silakan ayah bunda telusuri mbah google dan belajar menganalisa sendiri yaahh..

Mari lanjutkan uraian dari blog diatas : “Adalagi informasi lainnya. Untuk vaksinasi dasar, Indonesia telah berhasil membuat vaksin sendiri, sudah terbukti uji klinis dan epidemiloginya, bahkan dieskpor untuk kepentingan regional Asia Tenggara, di Biofarma, Bandung.
Masalah yang berkembang dan mencuat belakangan adalah vaksinasi tambahan, termasuk meningitis untuk calon jamaah haji atau vaksin HPV, yang masih diproduksi oleh produsen luar negeri semisal GSK.
*menurut penuturan seorang guru ngaji bahwa kebetulan beliau bekerja di balai POM, sudah ada vaksin meningitis yang halal untuk calon jemaah haji*”

Mengenai vaksin meningitis, ayah bunda bisa baca sendiri di harian Republika edisi Jumat tanggal 14 Oktober 2011. Vaksin tersebut bahkan baru-baru ini kembali dikritisi oleh Mantan Menkes Siti Fadhillah Sapari bahwa semua vaksin tersebut tetap mengandung bahan haram alias babi. So, menurut saya dalam mencari sebuah iinformasi bukan sekedar berbicara dengan seseorang yang ilmunya terbatas.

Alhamdulillah informasi ini saya dapatkan LANGSUNG dari bu DR. dr Siti Fadhillah Sapari, SpJK (K) sebagai mantan menkes lohh.. Ditambah dengan pengakuan dari Biofarma bahwa mereka TIDAK PERNAH diaudit oleh pihak yang berwenang dan dalam hal ini adalah LP POM MUI.

Kalimat terakhir yang mendorong saya untuk meluruskan informasi dari blog tersebut adalah pernyataan bahwa seseorang yang bukan berasal dari kedokteran sebagaimana tertulis demikian “apalagi kalau munculnya dari orang-orang yang bukan ahlinya, atau bahkan ga punya background pendidikan kedokteran sama sekali.”

Buat saya, seorang dokter atau bukan – ia punya kemampuan untuk BELAJAR dari siapapun. Gelar dan sebagainya bukan jaminan bahwa individu tersebut akan berkata benar. Belajar adalah kata kunci yang luar biasa. Bahkan Rasulullah shalallahu alayhi wa salam menyuruh kita untuk tidak taqlid atau belajar seperti kerbau dicucuk hidungnya, dimana apapun perkataan seseorang yang dianggap pintar dijadikan hukum tanpa mempelajari lebih jauh. Dan Alhamdulillah informasi yang saya terima justru berasal dari sosok-sosok yang memiliki kompetensi tinggi, seperti DR. dr. Siti Fadhillah Sapari, SpJK(K) dan Prof. DR. Hasyim dari LP POM MUI.

Kritikan tajam saya tujukan pada kalimat ini “sorry to say, maap- maap yeee kalo agak kasar, menurut saya, orang tua yang menganggap tidak mengimunisasi anaknya adalah pilihan terbaik dan adalah hak dia untuk memilih untuk tidak mengimunisasi adalah orang tua yang LUPA, lupa bahwasanya ada HAK ORANG LAIN untuk merasa aman dari ancaman penyakit yang mematikan.”

Sebagai seorang dokter, saya memahami dengan baik bahwa jika kuman yang disuntikkan dalam tubuh seseorang dengan daya tahan tubuh yang menurun maka kuman/virus tersebut menjadi aktif bahkan menginfeksi tubuh yang menerima vaksin tersebut. Dalam hal ini, siapakah yang berjalan-jalan membawa bahan penyakit dan memiliki resiko memberikan penularan kepada anak lainnya yang sehat? Sehat tanpa bahan kimia, sehat karena ibunya memberikan pengobatan ala Rasulullah shalallahu alayhi wasalam?
Ditambah lagi pengakuan dari salah seorang karyawan Biofarma bahwa penyimpanan vaksin tersebut di beberapa wlayah pelosok Indonesia TIDAK MEMENUHI STANDAR, sehingga kemungkinan vaksin rusak atau terkontaminasi sangat besar.

Kembali pada kisah di blog tersebut “mau ngutip kalimat temennya ayah, beliau punya background pendidikan kedokteran dan sedang mengambil jenjang spesialis, aaahh:
“ﻪّﻠﻟَﺍ sdh Mengaruniakan akal buat kita, ilmu pengetahuan manusia sudah tahu tentang vaksinasi, kampanye sudah dijalankan, digratiskan lagi oleh pemerintah. Secara rasional, ga ada alasan lagi untuk ga vaksinasi jadi, anggapan bahwa imunisasi / vaksinasi berasal dari kedokteran barat yang penuh konspirasi untuk melemahkan umat muslim, gimana?”

Sebagai seorang dokter, walaupun dokter umum, satu hal yang saya ketahui bahwa pribadi muslim diberikan akal dan pikiran pertama kali yang dilakukannya adalah YAKINI AYAT-AYAT ALLAH dan RASULNYA. Selanjutnya baru kaji dan telaah.

Saya dan orangtua kontra vaksin kimia telah memilih ASI sebagai vaksin alami, karena kami meyakini QS. AL BAqarah : 233 dan dari ayat tersebut kami kaji lebih jauh. Saya pribadi membutuhkan waktu 7 tahun untuk meyakini bahwa inilah maksud dari ayat Allah subhanahu wa ta’ala itu, bahwa ASI adalah VAKSIN ALAMI bagi setiap anak manusia yang lahir di muka bumi.

Bukti ilmiahnya apa? Silakan membaca pada link dibawah ini, bahwa dr Albert Sabin pada awal merintis percobaan vaksin polio – beliau menggunakan kolostrum manusia dan sapi sebagai obat. Jurnal ini menunjukkan bahwa hewan yang terinfeksi oleh polio, 84% sembuh dengan pemberian kolostrum.

http://pediatrics.aappublications.org/content/29/1/105.full.pdf+html

Pada akhir kisah dalam blog tersebut, penulis menuliskan “Silahkan menilai dan menjawab sendiri yaaaa”

Maka saya menjawab “Betul, mari silakan menilai dan menjawab sendiri. Kebenaran hanyalah milik Allah subhanahu wa ta’ala semata dan kelemahan adalah dalam diri saya sebagai penulis. BELAJAR dan DO’A untuk mendapatkan cahaya kebenaran. Semoga ayah bunda tidak membutuhkan waktu selama 7 tahun seperti saya dalam meyakini kebenaran tersebut.”

Sekali lagi bukanlah sekedar halal/haram semata namun BAHAN KIMIA didalam vaksin tersebutlah yang mendorong kami untuk mengatakan dengan lantang “NO TO VACCINE”.

nah,…

berhubung boenda SADAR se- SADAR-SADARnya background pendidikan boenda bukanlah kedokteran, penjelasan berikut bukanlah penjelasan ilmiah dari boenda, tapi merupakan penjelasan ilmiah dari teman ayah seorang dokter yang sedang mengambil pendidikan spesialis

berikut counter balik untuk tulisan mba dokter =)

“Membahas vaksin memang bisa ke mana2 dan mengaburkan substansinya. Tulisan sejawat yg saya tertarik latar belakang pendidikan dan karirnya ini, sayang tidak bs ditanggapi scr ilmiah krn substansi kebermanfaatan vaksin mjd kabur dg:
1. Penulis malah lebih banyak membedah buku 1001 moslem heritage dan jelas ini sudah keluar substansi.

2. Tidak diauditnya Biofarma dg LPPOM MUI saya belum tahu informasi kebenarannya, tp ya jangan salahkan vaksinnya dong lalu dituduh jika tidak diaudit sama dengan tidak halal. salahkan LPPOM MUI-nya kenapa “malas”.
Tp info terakhir kan kita tahu, MUI sudah mengeluarkan pernyataan vaksinasi halal kan?

Tapi saya coba menanggapi agak2 ilmiah dari pernyataan tulisan tsb:

1. Ttg tulisan: “Setelah tuntas membaca dan mengkaji, Alhamdulillah keyakinan saya tidak berubah bahkan semakin menguatkan bahwa vaksin kimia saat ini yang dipergunakan memang berbahaya.” :

ada kejanggalan ilmiah di sini, yaitu istilah vaksin kimia. Vaksin itu bukan obat yg tdd dari agen kimia tp virus/kuman yg dilemahkan, dg kata lain agen biologis (mahluk hidup) bukan kimia. Jika ada media garam aluminium dan merkuri,bukan berarti vaksin kimia jg namanya.

Seiring berkembangnya zaman, setahu saya
Dan pendasaran kosakata berbahaya itu harus jelas indikatornya. Misalnya angka kematian,kecacatan dsb. Indikator ini yg tidak disinggung. Semestinya penulis menampilkan indikator angka kematian,kecacatan komunitas yg tidak divaksin dibandingkan yg divaksin untuk menyangga argumen dia. Saya malah bertanya balik jadinya, lebih berbahaya mana tidak divaksin dan divaksin?

Argumentasi “berbahaya” si penulis didasarkan oleh teknik inokulasi dan peran seorang perempuan tertentu. Jelas tidak relevan. Pertama,tentu tak adil jika menyamakan teknik vaksinasi skrg dg teknik zaman dulu misalnya inokulasi, apalagi bawa2 peran seorang perempuan yg konspiratif banget dan sekali lagi sudah keluar substansi.

2. “Link diatas hanyalah mengenai fakta akan bahaya garam alumunium yang digunakan sebagai bahan adjuvant di SEMUA vaksin. ”

Tidak SEMUA vaksin mengandung garam aluminium, silakan dibaca di www.immunizationinfo.org. Garam aluminium sebagaimana obat dan zat lain, punya kadar aman dlm tubuh dan kadar itulah yg dipastikan aman yg ada dlm vaksin. Tidak relevan membahas suatu zat tanpa membahas ukuran (dosis)nya. Bisa saja saya mengungkap Paracetamol bikin mati krn gagal hati berat dan keracunan saraf, tp itu hanya terjadi pada dosis mega/sangat besar. Tp kan jadinya ga relevan membahas itu untuk konteks minum obat flu yg ada paracetamolnya dg dosis kecil.

Sementara fakta2 yg diajukan di link bukan mengenai garam aluminium berkadar tepat di vaksin kan? Jd Benar-Benar tp tdk Berhubungan (zaman UMPTN dulu jawabannya B).

3. “Saya pribadi membutuhkan waktu 7 tahun untuk meyakini bahwa inilah maksud dari ayat Allah subhanahu wa ta’ala itu, bahwa ASI adalah VAKSIN ALAMI bagi setiap anak manusia yang lahir di muka bumi.”

Kita doakan اِ نْ شَآ ءَ اللّهُ di tahun ke-8 saudara kita ini menjadi faham bahwa ASI jelas bukan VAKSIN ALAMI. Krn di dalam ASI tidak ada kuman yg dilemahkan, yg ada adalah imunoglobulin. Imunoglobulin mmg adalah tentara penjaga,ttp dlm kerjanya ia ga bs langsung tembak2an sama musuh,ia harus mengenali musuh itu dulu. Mengenali musuh itu butuh waktu, shg saat serangan pertama pasukan musuh berjumlah besar sang tentara akan kocar-kacir krn tak mengenali. Itu jg yg jd prinsip vaksinasi. Ia memberi musuh yg dilemahkan dan jumlahnya sedikit untuk dikenali sm tentara (ibaratnya ngasi latihan tempur kontra teror sm tentara kita). Shg jk berhadapan dg musuh beneran,tentara kita udh terlatih krn udah kenal luar dalem musuhnya. Jadi jelas pola spt ini tdk ada dlm pemberian ASI,maka tdk tepat menyebut ASI adalah vaksinasi alami.

4. “Sebagai seorang dokter, saya memahami dengan baik bahwa jika kuman yang disuntikkan dalam tubuh seseorang dengan daya tahan tubuh yang menurun maka kuman/virus tersebut menjadi aktif bahkan menginfeksi tubuh yang menerima vaksin tersebut.”

Ya makanya jangan memvaksin anak qt jika dia sedang sakit, begitu solusinya dan bukan jadi tidak divaksin lah. Counter argumen yg disampaikan dg membawa2 prolog “sebagai seorang dokter” jadinya nampak kurang oke. Krn ini coba dia sampaikan untuk memukul argumen anak yg ga divaksin itu kurang peduli dg sosialnya yg bs ikut terinfeksi”

terus mba dokter, ini ada pesan dari teman suami:

“Sekian tanggapan agak2 ilmiah saya terhadap tulisan yg lebih sarat sentimennya daripada keilmiahannya. Salam hangat buat sejawat ybs, mari sama2 belajar lagi.”

yuk deh mariiii,…

Dear mba dokter yang saya hormati,

hehehehehe sayang ya mba, kita berdua bisa bersepakat tentang urusan laktasi, tapi dalam hal imunisasi / vaksinasi kita berada pada titik yang bersebrangan =)

sayang sekali, saya bukan member grup facebooknya mba, jadi ga punya kesempatan untuk memberikan tanggapan atas tulisan mba disana. Hal ini yang memprihatinkan saya, tulisan saya di blog ini dikutip dan dijadikan pembahasan di dalam grup mba (kalau tidak mau dianggap sebagai bahan olok-olokkan) tanpa ada kesempatan saya untuk memberi jawaban dan konfirmasi

Warm Regards,

-siBoenda-

9 thoughts on “Re-Learning part 1.. Imunisasi (3)

  1. br sempet bc2 ini..pdhal uda pngen bgt dr kmrn2..:p
    pikir aq urusan soy no to vaksin buat golongan jamaah tertentu aja..tp ini dokter yah yg mlh say no to vaksin *bneranbrtau*
    klo aq sik, anak2 ku di vaksin wajib ampe yg 9bln itu campak yaaa..yg lanjutannya belum niy..kmrn pas k dsa dia blg nanti pas 5th br ada vaksin lanjutan lg, ada sik vaksin tambahan lainnya klo mau..atau nanti ditanyakan ksekolah ada/ga program PIN-nya..

    mdh2an ortu saat ini sll mncari referensi u/ memutuskan yg tbaik u/anak2nya..

  2. Semoga orang yang nggak memvaksin anaknya, saat anaknya berumur 6/8 tahun ibunya bisa keluar ASI-nya lagi supaya bisa booster “vaksin ASI” mereka😀😀😀

  3. Pingback: Seminar IMUN is ASI « Metode Terpadu Pembentukan Karakter Unggulan Sejak Dini

  4. Sabar mbaaak toh si dokter tersebut lulusan universitas swasta berakreditasi B, yang mana hanya karena ortunya yang dokter terobsesi ingin anaknya juga jadi dokter, sehingga mau mengeluarkan uang puluhan juta rupiah (pada zaman tsb) agar anaknya yang cara berpikirnya (bahasa alus dari otak :D) kurang mampu untuk menjadi dokter (hal ini terbukti dy tidak diterima di fakultas kedokteran univ negeri san univ swasta berakreditasi A) jadi ya gitu, dia lebih mengandalkan artikel mbah google yang mana kurang dapat dipercaya dibanding membaca jurnal ilmiah yang shahih, wallahualam🙂

    btw waktu saya ikut grupnya dulu lho, dia malah menyarankan suami temen saya yang kena tbc buat tidak mengkonsumsi antibiotik, capedeh😀
    masih rame kok dia ngoceh di twitter, makin nyinyir lagi😀

    • iya ya mba? tapi emang watak kali yah… beberapa orang bilang ke aq, org tersebut dgn sesama yg kontra vaksin juga sering di kritik cara dia menyampaikan sesuatu yang terlalu kasar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s