Temper tantrum, wajarkah? (1)

Menghadapi anak usia toddler gampang-gampang susah ya, kadang lucu gemesin nyenengin kadang nguras emosi dan bakar sumbu emaknya yang pendek ini. apalagi kalau udah tantrumnya keluar, hadddeeuuhhh (T__T)

jadi inget, jaman kuliah dapet teori tentang tantrum ini. sedikit rangkuman teori yg boenda dapet jaman kuliah kira-kira kaya gini (copas dari tugas kuliah psikodiagnostik II):

Perilaku tantrum (untuk selanjutnya disebut tantrum) umumnya terjadi  anak usia 15 (lima belas) bulan sampai 6 (enam) tahun di saat anak menunjukkan kemandirian dan sikap negativistiknya. Tantrum terjadi disebabkan karena anak belum mampu mengontrol emosinya, juga belum mampu mengungkapkan amarahnya secara tepat karena pada usia tersebut, aktivitas fisik seorang anak sering tidak sesuai dengan keinginannya. Kosakatanya sering tidak mencukupi baginya untuk membuat dirinya dimengerti atau menyampaikan keinginannya (Prayitno, 2003: 23). Tantrum dapat termanifestasi dalam berbagai perilaku, seperti berteriak-teriak, melempar-lemparkan barang, membentur-benturkan kepala, membanting pintu, menangis dengan keras, berguling-guling di lantai, menjerit, melempar barang, memukul-mukul, menyepak-nyepak, bahkan pada anak yang lebih kecil, diiringi pula dengan muntah atau kencing di celana (http://www.e-smartschool.com/uot/001/UOT0010006.asp)

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya Tantrum. Diantaranya adalah sebagai berikut: (http://www.e-psikologi.com/anak/290402.htm)

  1. Terhalangnya keinginan anak mendapatkan sesuatu. Setelah tidak berhasil meminta sesuatu dan tetap menginginkannya, anak mungkin saja memakai cara tantrum untuk menekan orangtua agar mendapatkan yang ia inginkan, seperti pada contoh kasus di awal.
  2. Ketidakmampuan anak mengungkapkan diri. Anak-anak punya keterbatasan bahasa, ada saatnya ia ingin mengungkapkan sesuatu tapi tidak bisa, dan orangtuapun tidak bisa mengerti apa yang diinginkan. Kondisi ini dapat memicu anak menjadi frustrasi dan terungkap dalam bentuk tantrum.
  3. Tidak terpenuhinya kebutuhan. Anak yang aktif membutuh ruang dan waktu yang cukup untuk selalu bergerak dan tidak bisa diam dalam waktu yang lama. Kalau suatu saat anak tersebut harus menempuh perjalanan panjang dengan mobil (dan berarti untuk waktu yang lama dia tidak bisa bergerak bebas), dia akan merasa stres. Salah satu kemungkinan cara pelepasan stresnya adalah tantrum. Contoh lain: anak butuh kesempatan untuk mencoba kemampuan baru yang dimilikinya. Misalnya anak umur 3 tahun yang ingin mencoba makan sendiri, atau umur anak 4 tahun ingin mengambilkan minum yang memakai wadah gelas kaca, tapi tidak diperbolehkan oleh orangtua atau pengasuh. Maka untuk melampiaskan rasa marah atau kesal karena tidak diperbolehkan, ia  memakai cara tantrum agar diperbolehkan.
  4. Pola asuh orangtua. Cara orangtua mengasuh anak juga berperan untuk menyebabkan tantrum. Anak yang terlalu dimanjakan dan selalu mendapatkan apa yang diinginkan, bisa tantrum ketika suatu kali permintaannya ditolak. Bagi anak yang terlalu dilindungi dan didominasi oleh orangtuanya, sekali waktu anak bisa jadi bereaksi menentang dominasi orangtua dengan perilaku tantrum. Orangtua yang mengasuh secara tidak konsisten juga bisa menyebabkan anak tantrum. Misalnya, orangtua yang tidak punya pola jelas kapan ingin melarang kapan ingin mengizinkan anak berbuat sesuatu dan  orangtua yang seringkali mengancam untuk menghukum tapi tidak pernah menghukum. Anak akan dibingungkan oleh orangtua dan menjadi tantrum ketika orangtua benar-benar menghukum. Atau pada ayah-ibu yang tidak sependapat satu sama lain, yang satu memperbolehkan anak, yang lain melarang. Anak bisa jadi akan tantrum agar mendapatkan keinginannya dan persetujuan dari kedua orangtua.
  5. Anak merasa lelah, lapar, atau dalam keadaan sakit.
  6. Anak sedang stres (akibat tugas sekolah, dll) dan karena merasa tidak aman (insecure)
  7. Yang paling sering terjadi adalah karena anak mencontoh tindakan penyaluran amarah yang salah pada ayah atau
  8. Untuk mencegah terjadinya tantrum orang tua sebaiknya mengenali kebiasaan-kebiasaan anak, dan mengetahui secara pasti pada kondisi-kondisi seperti apa akan muncul tantrum pada anak.

Selain mengenali kebiasaan-kebiasaan anak, untuk mencegah terjadinya tantrum, orang tua pun perlu introspeksi terhadap cara/pola mengasuh anak. Apakah orang tua bertindak terlalu melindungi (over protective) dan terlalu melarang terhadap sekian banyak kegiatan anak? Atau apakah anak terlalu dimanjakan? dll. Jika orang tua sudah bisa melakukan introspeksi tentang cara mengasuh anak, maka kondisi tantrum bisa dicegah. Konsistensi dan kesamaan persepsi dalam mengasuh anak, juga sangat berperan. Jika ada ketidaksepakatan, orang tua sebaiknya jangan berdebat dan berargumentasi satu sama lain di depan anak, agar tidak menimbulkan kebingungan dan rasa tidak aman pada anak. Orang tua hendaknya menjaga agar anak selalu melihat bahwa orang tuanya selalu rukun dan sepakat.

Martina Rini S. Tasmin, Spsi memberikan indikator perilaku tantrum menurut tingkatan usia (http : //www.e-psikologi.com/anak/290402.htm)

  1. Dibawah Usia 3 Tahun :
  • Menangis
  • Menggigit
  • Memukul
  • Menendang
  • Menjerit
  • Memekik-kekik
  • Melengkungkan punggung
  • Menjatuhkan badan ke lantai
  • Membentur-benturkan kepala
  • Melempar-lempar barang.
  1. Usia 3-4 Tahun
  • Perilaku-perilaku tersebut diatas
  • Menghentak-hentakkan kaki
  • Meninju
  • Berteriak-teriak
  • Membanting pintu
  • Mengkritik
  • Merengek
  1. Usia 5 Tahun Keatas
  • Perilaku-perilaku tersebut pada dua kategori usia diatas
  • Memaki
  • Menyumpah
  • Memecahkan barang dengan sengaja
  • Mengancam

Pakar lain pun menambahkan adanya indikator lain yakni berguling-guling di lantai, menyepak-nyepak, bahkan pada anak yang lebih kecil, diiringi pula dengan muntah atau kencing di celana (http://www.e-smartschool.com/uot/001/uot0010006.asp

Bagaimana dengan AIRA?

So far, tantrumnya aira sebatas menangis jejeritan yang terkadang disertai dengan memukul ringan. Durasinya juga ga lama, paling lama 45 menit dan berlangsung di rumah. Pernah berlangsung di luar rumah, di Transmall saat keinginan naik keretanya ga terpenuhi (waktu itu udah mau tutup transmallnya) tantrumnya masih berupa menangis kencang di gendongan dari lantai 3 hingga parkiran (n___n)

-siBoenda-

2 thoughts on “Temper tantrum, wajarkah? (1)

  1. Pingback: Temper tantrum, wajarkah? (2) « -siBoenda-

  2. Tantrumnya fachri cemberut,teriak sebentar,trs melengkungkan punggung and then merebahkan badan di lantai. #sabar..sabar..sabar *geleng2 kepala,elus dada.istigfar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s