Menikah… ini dan itu….

Disclaimer: postingan berikut bukan bermaksud memberi judgement tertentu, tapi pure pelampiasan pikiran boenda yang mungkin kelak berguna u/anak-anak saat membaca tulisan ini, saat ga bisa mengerti jalan pikiran boenda…

Waktu memandikan Ayyash kemaren, berhubung tempat mandinya deket tv, boenda sempet denger infotainment ada 3 berita yang ketiganya bertemakan pernikahan. Nah ada 2 berita diantaranya yang menarik perhatian  alam pikiran boenda

1. Seorang komedian yang menikahi perempuan muda dengan selisih usia yang sangat jauh

2. Seorang ustadz yang kembali menikahi istri pertamanya setelah…. ummm 9 bulan bercerai

berita no 1, jujur, bikin boenda mlotot dan spontan nyeplos “WHAT?!” kaget lho dengernya, selisih usianya kaya kakek sama cucunya. Boenda mikirnya “karena cinta sih ya emang, tapi apa ga mikir  ke arah tumbuh kembang anaknya? “

bujug dah terkesan ngurus amat hidup orang yak? seperti disclaimer yang boenda tulis di atas, bukan karena ngurus amat urusan orang. Sebodo teing lah ya, toh udah nikah ini, resiko ditanggung penumpang…

Tulisan ini untuk anak-anakku kelak, se-enggaknya begitu lho boenda mu mikir tentang konsep “menikah”. Menikah buat boenda, bukan sekedar perkara mencari pasangan untuk diri sendiri, bukan sekedar i love you, you love me alias bermodal cinta aja… tapi more than that! sebelum menikah, niatkan mencari seseorang sebagai calon ayah / ibu dari anak-anakmu kelak. Itulah yang akan mengantarkanmu pada pikiran mencari sosok yang bisa menemanimu, memberimu sokongan, memberikan teladan yang baik dalam mengasuh anak-anak secara fisik, mental maupun finansial. Boenda ga ngajarin untuk menjadi orang yang matre, tapi ga bisa dipungkirin materi itu perlu! emang bisa bayar pendidikan anak atau biaya berobat saat sakit pake cinta? Begitu juga urusan fisik. Kalau bisa, cari seseorang yang prima kondisi fisik dan mentalnya. Anak-anakmu kelak butuh sosok orang tua yang kuat yang bisa menemani mereka hingga waktu lama *walau urusan seberapa lama umurnya adalah hak preogatif Allah* urusan mental, cukuplah santun, jujur dan bertanggung jawab menjadi dasar penilaiannya.

Nah sekarang balik ke no 1. Kalau bisa sih, mencari pasangan jangan yang terpaut terlalu jauh usianya. Pada berita no 1, kebayang ga gimana kalau di saat anaknya lagi butuh figur ayahnya yang ENERGIK, aktif bermain dengan dirinya si ayah udah terbatas gerak fisiknya karena faktor usia yang sudah lanjut? atau gimana saat si anak memiliki kebutuhan finansial yang banyak, si ayah udah ga bs produktif  yang lagi-lagi karena faktor sudah lanjut usia? bisa sih ibunya bekerja, tapi ya jadi posisi ganda, banting tulang nyari uang+ngasuh anak”

Jadi yaaa begitulah yaaa, kiddos! kalau kelak kalian udah pada masanya mencari pasangan hidup kira-kira beginilah “kriteria” yang boenda mu harapkan. Sekedar berharap boleh dong😉

*buset masih lama woiiii*

lanjuuutt berita no 2.

beda dengan berita no 1. Reaksi boenda waktu denger berita itu: “oohh Alhamdulillah”

Emang dasarnya boenda belom siap sih denger istilah istri ke-dua, ke-tiga, ke-empat *dengan tanpa membenci konsep poligami*  Menurut boenda yah, tega bener gitu kalau ada laki-laki mapan yang menikah lagi padahal udah punya istri yang nemenin dari jaman susah, yang udah meregang nyawa melahirkan anak-anak *eh, beneran lho ini, melahirkan itu SAKIT!* ibaratnya mah kaya kacang lupa kulitnya! jaman susah bersandar pada istri saat penat melanda, eeeh kok yoh saat udah mapan bersandar pada orang lain…

Makanya… hey you, my son! temanilah orang yang engkau nikahi untuk pertama kali sampai kapanpun! temani istrimu saat  hamil dan melahirkan, agar kamu melihat dengan mata kepalamu sendiri perjuangan istrimu, biar mikir ribuan kali untuk menyakiti hatinya. Kalau sampai engkau sakiti hati istri yang udah memberikan seluruh pengabdiannya dalam menemanimu dengan berbagi hati untuk perempuan lain. Percayalah, boenda akan bersebrangan denganmu! i’ll keep my words

 

celoteh apaaaannn ini pagi-pagi …

*ngakak*

-siBoenda-

4 thoughts on “Menikah… ini dan itu….

  1. huuu horor ni mbak kalimat terakhirnya, heehe
    tapi saya sepakat. Saya tidak menentang konsep poligami, tapi saya gak mau dipoligamiiiii😦
    Aminnn… *nikah aja belum* wkwkwk

  2. ngomel pagi2 ya mbak, xixixixi…. tapi emang bener tuh yang no.1 saya ada baca beritanya alasannya merit kan mau cari keturunan, dalam perspektifku nih mba. emang ya semua orang berhak mau punya keturunan tapi ketika ada orang2 tertentu yang di takdirkan Allah gak punya keturunan padahal dia pengen banget apa gimana ya..
    tentunya wajib berusaha berobat dengan cara yang halal tapi menurut saya ada 1 hal lagi yang gaaak kalah mulianya yaitu mungkin Allah pengen kita menjadi perpanjangan tanganNya dalam mengurus anak yatim, anak terlantar, anak jalanan atau anak yang butuh biaya pendidikan. kita bisa adopsi anak dari bayi ato kalo ga mo ngurus bayi at least kita bis jadi ortu asuh bagi anak2 yang butuh biaya pendidikan…
    hmmm saya berharap sutu saat nanti bisa jadi ortu asuh…amiiinnn…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s